Nasib Ribuan Warga Ukraina yang Ditahan Militer Rusia Akankah Dibebaskan?
Artikel ini membahas tentang Rusia tak segan menahan warga sipil Ukraina yang tertangkap militernya. Ukraina mengklaim 1500 warganya ditahan di Rusia
TRIBUNJAMBI.COM - Rusia tak segan menahan warga sipil Ukraina yang tertangkap militernya.
Warga sipil Ukraina yang ditahan di Rusia jumlahnya sudah ribuan.
Hingga kini jumlah warga sipil Ukraina yang ditahan di penjara Rusia terus meningkat.
Hal ini seiring invasi Rusia terhadap Ukraina yang masih terjadi hingga saat ini.
Wakil Perdana Menteri Ukraina dan Menteri Reintegrasi Wilayah Iryna Vereshchuk ungkap 1500 warga sipil Ukraina yang ditangkap
Vereshchuk, sebagaimana dilansir Ukrinform berpendapat warga sipil Ukraina seharusnya dibebaskan.
Di antara para tawanan ada sukarelawan, aktivis, jurnalis, imam, wakil dewan lokal hingga kepala lembaga pemerintah lokal.
Komite Palang Merah Internasional sebelumnya telah meminta Rusia untuk memberikan daftar warga sipil Ukraina yang ditawan oleh Rusia dan daftar itu juga telah diberikan ke Ukraina.
Tentara AS Terancam Hukuman Berat
Nasib tentara Amerika Serikat di Ukraina yang terancam hukuman mati jika tertangkap pasukan Rusia.
Rusia tak akan buka peluang ampunan bagi tentara Amerika Serikat yang ditangkap di Ukraina.
Peluang hukuman manti pun membayangi tentara Amerika Serikat di Ukraina yang tertangkap pasukan Rusia.
Hal ini disampaikan Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov dalam sebuah wawancara dengan televisi NBC yang disiarkan pada Senin (20/6/2022).
"Saya tidak bisa menjamin apa-apa. Itu tergantung pada penyelidikan," jawab Peskov, terkait apakah prajurit Amerika yang ditangkap di Ukraina tidak akan menghadapi hukuman mati.
Dilansir TASS, jubir Kremlin menjawab pertanyaan terkait d hukuman yang dijatuhkan kepada dua warga Inggris, Aiden Aslin dan Shaun Pinner, serta warga Maroko Brahim Saadoun.
Mereka akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Republik Rakyat Donetsk.
Sementara itu menurut laporan The Daily Telegraph pekan lalu dua mantan tentara AS, Alexander Drueke dan Andy Huynh, ditangkap di dekat Kharkov.
Hal ini membuat Departemen Luar Negeri AS pada 16 Juni lalu bernegosiasi dengan Rusia mengenai dua tawanan asal Amerika itu.
Serangan Masif Rusia
Serangan Rusia terhadap Ukraina semakin gencar bahkan dari berbagai arah.
Ukraina digempur Rusia dari berbagai arah.
Hal ini membuat pasukan Ukraina harus bertahan ketat agar mempertahankan wilayahnya.
Pertempuran sengit itu diungkap Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dilansir Evening Standard, saat berpidato Senin (13/6/2022) malam kepada rakyat Ukraina, Zelensky ungkap banyaknya korban jiwa.
"Ini benar-benar menakutkan."
Pasukan Rusia telah menguasai kota-kota di Ukraina.
Ketiga jembatan ke kota Donbas timur yang diperangi itu telah hancur.
Ia juga menyebut Rusia mendapatkan kendali penuh atas Severodonetsk.
"Sebagian masih di bawah kendali Ukraina," ujarnya.
Pasukan Ukraina yang masih ada di kota itu harus menyerah jika tak ingin mati dalam peperangan.
Severodonetsk jadi salah satu kota terakhir di wilayah tersebut yang akan jatuh ke tangan Putin jika diambil alih.
Severodonetsk telah dibombardir secara intens selama beberapa minggu terakhir saat pertarungan untuk menguasai Donbas semakin intensif.
Artikel Ini Diolah dari Tribunnews.com
Baca juga: Pertempuran Mengerikan di Ukraina, Presiden Zelensky Ungkap Sengitnya Serangan Rusia
Baca juga: Strategi Bertahan Ukraina saat Diserang Rusia dari 9 Penjuru, Amerika Bertindak Cepat
Baca juga: Makin Dipepet Tentara Rusia, Presiden Ukraina Minta Bantuan Senjata Anti Rudal
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Warga-Ukraina.jpg)