Tribun Wiki

Kerajinan Ukir Kayu di Batanghari Sejak 1990, Kini Pengrajin Beralih Buat Tongkat Persneling Mobil

Di Jambi tepatnya di Desa Pulau Betung Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari sudah menggeluti kerajinan ukir kayu sejak 1990.

Penulis: A Musawira | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM/MUSAWIRA
Pengrajin ukir kayu di Desa Pulau Betung Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Tidak hanya di Pulau Jawa yang dikenal sebagai daerah penghasil kerajinan ukiran, di Jambi tepatnya di Desa Pulau Betung Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari sudah menggeluti kerajinan tersebut sejak 1990.

Kala itu, warga Desa Pulau Betung menghasilkan kerajin ukir dari satu balok kayu utuh. Dijadikan kursi tamu, kursi taman dan kursi bersantai.

Seiring perkembangan zaman, pengrajin ukiran itu beralih ke kerajinan persneling atau handle gigi mobil bermotif pada 2010. Ide ini didapatkan dari pengrajin lokal.

Satu diantara Pengrajin Seni Ukir Desa Pulau Betung Kecamatan Pemayung, Jangte (43) mengatakan sudah sangat lama warga Desa Pulau Betung berprofesi sebagai pengrajin ukiran.

“Warga di sini mulai dari 1990. Waktu itu, bahan baku masih banyak seperti kayu tembesu, mahoni dan kayu rengas. Ciri khasnya mengukir 1 kayu utuh tanpa tempelan dan tidak ada paku,” katanya pada Sabtu (18/6/2022).

Peralihan kursi ke persneling atau handle gigi mobil bukan tanpa sebab, Jangte mengakui sudah sulitnya pengrajin mencari kayu utuh yang berkualitas.

“Kita kekurangan bahan sehingga berefek kepada pemasaranya yang merosot. Pengrajin di sini lebih banyak membuat ukiran tongkat handle mobil. Itu sedang berkembang,” jelasnya.

Walau begitu, kata Jengte sumber kayu masih bisa ditemukan dipedalaman hutan di Batanghari, tapi sudah tak banyak lagi.

“Handle ini butuh kayu yang kecil. Limbah kayu pun jadi. Bisa berbentuk kepala hewan seperti ular kobra, naga, wayang dan cepot dari kayu khusus yaitu kayu marelang,” katanya.

Sejak 1990 itu, hampir seluruh warga desa adalah pengrajin ukiran, sejak 2000 pesanan makin berkurang dan kayu sulit dicari, para pengrajin beralih menjadi petani dan tukang bangunan.

“Kurangnya perhatian pemerintah, jadinya pengrajin kita kurang lebih 30 orang yang masih bertahan,” ucapnya.

Jangte mengakui berbagai kerajian ukiran dari Desa Pulau Betung pernah menghiasi kegiatan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) sebelum pandemi Covid-19.

"Saya pernah mempamerkanya melalui kegiatan JFK, 2 kali. Waktu itu kita bawa satu truk, dan habis terjual," ucapnya.

Selain dengan cara itu, ukiran handle juga saat ini dipasarkan ke luar daerah seperti Sarolangun, Muaro Jambi, Bungo, Tebo hingga Pekanbaru, Padang, Bengkulu dan Palembang dibawa keliling ketika ada pesanan.

"Outlet atau toko khusus tetap ada. Sejak pandemi ini kita telah beradaptasi dengan penjualan online. Diharapkan hasil ukiran ini menjadi cendramata sekaligus kebanggaan masyarakat Kabupaten Batanghari,” harapnya.

Ia mengatakan untuk membuat kursi dari satu kayu utuh utuh masih bisa diupayakan dalam pembuatannya butuh waktu dua bulan. Proses paling lama adalah pengeringan. Karena masih dengan cara alami. Supaya tak jamuran dan dimakan teter.

“Kita bikin kayu dengan cara alat manual, pakai beliung, pakai pahat untuk teknologi mesin kami belum punya. Untuk motif ukir sesuai dipesanan, lebih dominan motif kol, batu dan naga. Biayanya untuk 4 kursi dan 1 meja itu Rp13 juta. Kalau kursi motif naga sekitar Rp 20 juta dan handle per satuannya Rp 50 ribu. Dalam per bulan omset saya capai Rp 15 juta atau 300 handle terjual diberbagai daerah,” pungkasnya

Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Harga Hewan Kurban, Sapi dan Kambing Jelang Idul Adha 2022

Baca juga: Daftar 5 Pemain Akademi Persis Solo yang Diorbitkan ke Tim Senior, Dua Masuk Timnas U19 Indonesia

Baca juga: Iseng Rekam Pacar Mandi Malah Videonya Tersebar ke Grup WA, Begini Jadinya

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved