Lawan Covid 19

Kasus Covid-19 Bak 'Roller Coaster', Kemenkes Minta Masyarakat Tidak Panik

Kasus Covid-19 di Indonesia beberapa hari belakangan kembali meningkat. Jika melihat angka kasus dari 8-14 Juni 2022 peningkatan mencapai 500 kasus.

Editor: Fifi Suryani
SHUTTERSTOCK/Naeblys
Ilustrasi varian Covid-19. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kasus Covid-19 di Indonesia beberapa hari belakangan kembali meningkat. Jika melihat angka kasus dari 8-14 Juni 2022 peningkatan mencapai 500 kasus.

Namun, data terakhir dari Kementerian Kesehatan 15 Juni 2022 angka kasus untuk Jakarta mencapai 732 kasus dari 517. Dan nasional sendiri mencapai 1242 kasus.

Terkait hal ini, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH membenarkan memang terjadi kenaikan kasus di bulan Juni. Dan ini terlihat sejak 10 Juni lalu. Ada 627 tapi tiga hari turun dan naik lagi. Sekarang naik sampai 1242 kasus.

"Saat ini ada lima provinsi dengan kasus tertinggi yaitu Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur," ujarnya secara virtual, Kamis (16/6).

Namun menurutnya naik turun kasus covid-19 tersebut, termasuk angka kesakitan dan kematian merupakan bagian dari masa pandemi walau terkendali. "Jangan terlalu panik dengan adanya satu kenaikan. Dan jangan terlalu euforia juga kalau melandai karena kita masih dalam pandemi. Kita waspadai adalah bagaimana kita mengendalikan angka itu walau pun naik," kata Syahril lagi.

Ia pun mengatakan jika berdasarkan pada pengalaman, kenaikan kasus di beberapa negara disebabkan adanya kemunculan varian atau sub varian baru. Dan saat ini dipengaruhi sub varian baru Omicron yaitu BA.4 dan BA.5

"Mudah-mudahan kita bisa kendalikan walau kenaikan ya bisa kita kendalikan. Tidak seperti tahun lalu menjadi lonjakan kasus, baik Omicron maupun Delta," pungkasnya.

Kepala Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander Ginting melihat jika sub varian BA.4 dan BA.5 tidak menunjukkan keparahan yang tidak menonjol. Namun hal ini berlaku bagi mereka yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 dosis lengkap. Kemudian tidak memiliki penyakit komorbid.

Dengan kriteria di atas, keparahan dari pasien yang terinfeksi Covid-19 tidak begitu menonjol. Apa lagi di beberapa daerah yang usia muda dan lanjut keparahannya tidak seberapa.

"Meski memang jelas bahwa BA.4 dan BA.5 yang dilaporkan mendati sudah vaksinasi tiga kali, tetap terinfeksi," ujarnya.

Sisi lain, sub varian BA.4 dan BA.5 dapat menimbulkan gejala ringan tidak seperti Delta. Tetapi bagi mereka yang imunitasnya rendah, memiliki komorbid tetap berpotensi ke rumah sakit.

"Oleh karena itu yang harus diutamakan buka ringan atau tidak. Tapi kita harus cegah penularannya. Karena sepanjang terjadi penularan akan terjadi mutasi. Jika terjadi mutasi akan menjadi berbagai penguatan atau semakin lemah," tegas Alexander lagi.

Ia pun menggambarkan varian Omicron yang memiliki 30 jenis mutasi di spike protein. Spike protein ini yang akan menempel ke organ tubuh sehingga bisa masuk dan terinfeksi. Alexander menyebutkan jika bagi mereka yang memiliki komorbid, pemerintah sudah menyediakan akses dan akselerasi pengobatan melalui rumah sakit dan klinik. Dan menyediakan BPJS Kesehatan untuk mereka yang komorbid.

"Apakah asma, diabetes dan sebagainya untuk tetap berobat. Karena ini salah satu faktor perburukan. Sepanjang komorbid bisa ditangani, mengonsumsi obat dengan baik, maka angka kesakitan dan kematian akan bisa kita turunkan," tegasnya.

Menurutnya sejauh ini perbedaan antara kenaikan kasus tahun 2022 dengan 2021 adalah angka kesakitan dan kematian yang tidak menonjol. "Hal ini dikarenakan imuntias sudah terbangun. Kemudian masyarakat sudah mengontrol komorbidnya," tutup Alexander.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved