Berita Kota Jambi

60 Persen Emas di Anak Sungai Jambi Habis Akibat Tambang, Ini Kata Walhi Jambi

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jambi mengadakan agenda nasional Pekan Rakyat Lingkungan Hidup sejak 1-5 Juni 2022.

TRIBUNJAMBI.COM/RARA
Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jambi mengadakan agenda nasional Pekan Rakyat Lingkungan Hidup sejak 1-5 Juni 2022. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jambi mengadakan agenda nasional Pekan Rakyat Lingkungan Hidup sejak 1-5 Juni 2022.

Pada kesempatan ini, Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jambi, Abdullah mengatakan hulu sampai hilir banyak daerah yang rusak karena tambang, Rabu (1/6/22).

Kata dia, sekitar 60 persen emas di anak-anak sungai itu sudah habis akibat penambangan.

"Kita dari WALHI juga tidak langsung mengaminkan legalnya tambang-tambang emas itu. Tetapi akar dari persoalan tersebut," katanya.

"Jadi terkait dengan wacana melegalkan tambang rakyat itu harus kita telaah lagi. Tidak sekedar tambangnya dikelola oleh rakyat lalu tanpa melihat subjek dan juga objeknya," ungkapnya.

Penelaahan tentang apa yang menjadi penyebab maraknya tambang akhir-akhir ini harus ditemukan di Jambi.

Senada dengan pernyataan Gubernur Jambi, Alharis bahwa ada tiga wilayah yang sangat hancur akibat penambangan. Yaitu Sarolangun, Merangin, dan Bungo.

"Ini membutuhkan kerjasama banyak pihak. Tidak hanya melakukan razia-razia saja. Apalagi dengan isu memunculkan wilayah pertambangan rakyat," lanjutnya.

Pada pembahasan 'pertambangan rakyat', menurutnya justru perlu lebih hati-hati untuk lebih spesifik rakyat yang dimaksud adalah "rakyat yang mana?".

"Mereka adalah masyarakat yang tidak dapat memiliki pencarian lain lagi sehingga harus melakukan penambangan emas atau seperti apa. Atau pekerjaan orang-orang yang memiliki modal lalu menanamkan modalnya pada masyarakat setempat," ucapnya.

Sehingga tindakan terselubung itu dapat pelan-pelan menghancurkan ekosistem yang ada di wilayah tersebut.

WALHI Jambi telah berupaya membuka komunikasi kepada Gubernur Jambi Alharis terkait wilayah pertambangan rakyat.

Karena dalam melihat sudut pandang pertambangan rakyat harus melihat subjek dan objek adanya tambang.

"Mengapa harus menambang kalau ada hasil yang setara dengan tambang itu," lanjutnya.

Lalu beberapa desa di wilayah hulu masyarakat kompak untuk menambang tetapi dengan cara tradisional.

Simak berita-berita terbaru Tribunjambi.com melalui Google News

TONTON misteri kematian bocah di Bungo oleh Bujang Tuo pecinta Janda

Baca juga: Iis Dahlia Ceritakan Warisan dari Krisdayanti untuknya, Aurel Hermansyah: Hah

Baca juga: Tottenham Masih Tertarik Datangkan Filip Kostic dari Eintracht Frankfurt meski Ada Ivan Perisic

Baca juga: Arsenal Masih Minat Kontrak Gelandang Youri Tielemans dari Leicester City

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved