Berita Jambi

Cost-Modern Pelukis Jambi dapat Inspirasi dari Fenomena di Zaman Modern

Seorang seniman mendapatkan inspirasi karya dari berbagai hal, seperti seniman muda asal Jambi Afif ziadi meluapkan ekspresionis dalam sebuah karya lu

Penulis: Ade Setyawati | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM/ADE SETIAWATI
Afif seniman muda asal Jambi gelar showcase seni lukisan di Mbloc Market dari tanggal 26-30 Mei 2022 dengan tema cost -modern. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Seorang seniman mendapatkan inspirasi karya dari berbagai hal, seperti seniman muda asal Jambi Afif ziadi meluapkan ekspresionis dalam sebuah karya lukisan yang bertema cost - modern, dengan menampilkan 5 karya seni lukisan.

Amri Mushlih penanggung jawab showcash karya lukisan menyampaikan, "di zaman modern seperti sekarang ini, gaya hidup seolah-olah menjadi penanda dari identitas seseorang dimana realitas kehidupan menjadi pudar.

"Setiap orang juga berlomba-lomba menjadi eksis dalam pergaulan dan gaya hidup lainnya. Fungsi dari komoditas pun dibuat menjadi lebih rumit," jelasnya.

Amri melanjutkan orang-orang pada zaman ini dijebak dengan keinginan-keinginan untuk mendapatkan barang-barang ataupun menjalani gaya hidup tertentu. Seolah-olah kebahagiaan baru dapat dicapai dengan memiliki barang-barang tertentu.

"Ini juga berpengaruh pada persoalan sosial, mulai dari terlupanya komunikasi jarak dekat, pergaulan yang mengharuskan memiliki barang branded. Semua demi terlihat 'keren' dan modern hingga merasa lebih diterima di masyarakat," tambahnya.

Munculnya fenomena ini, Afif seniman muda asal Jambi, menjawab ada pada kenyataan yang dilebih-lebihkan.

"Yang dimaksud kenyataan yang dilebih-lebihkan ini berkaitan dengan dunia simulasi, dimana manusia akhir-akhir ini hidup dengan gadget," lanjutnya.

"Apapun yang muncul di dalam gadget hari ini seolah-olah menjadi sumber kebenaran sehingga apa yang dikonsumsi hingga gaya hidup seseorang dipengaruhi dari sini," jelansya.

Ia melanjutkan, pola fikir dimana seperti seorang siswa SMA harus punya 'IPhone' agar ia diterima di pergaulannya, atau sekedar dianggap 'keren'. Dan seorang pegawai negeri pun harus menenteng tas 'HERMES' agar ia merasa percaya diri untuk sekedar menghadap pegawai lain.

Bagi Afif, kenyataan ini menunjukkan gejala pemujaan terhadap komoditas dengan sedikit masalah di dalamnya. Semua harus merogoh kocek untuk mengejar kata keren, eksis, sukses atau semacamnya.

"Dimana dengan memiliki barang-barang tersebut jadi ukuran untuk menilai layak atau tidaknya seseorang dalam pergaulan," tutupnya.

Melihat fenomena ini juga membuat pelukis resah dan meluapkam dalam karya-karyanya.

Simaklah berita-berita terbaru Tribunjambi.com melalui Google News

Baca juga: Istri Putra Siregar Beberkan Kebaikan Rekan Artis saat Momen Ulang Tahun Sang Anak

Baca juga: Luapkan Keresahan Pada Karya Seni Lukisan

Baca juga: Brotoseno Kembali Jadi Penyidik Bareskrim, Usai Dipenjara karena Kasus Korupsi

Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved