Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Firman Allah yang Menjadi Terang
Bacaan ayat: Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
Firman Allah yang Menjadi Terang
Bacaan ayat: Mazmur 119:105 (TB) Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Sebelum bola lampu ditemukan, pelita menjadi andalan untuk penerangan di malam hari. Pelita berbahan bakar minyak, didesain sedemikian rupa sehingga api yang menjadi sumber terang dapat terus menyala meskipun berada dalam pekatnya malam dan cuaca yang ekstrim.
Satu-satunya penerang jalan yang akan terus menuntun seorang petualang untuk melangkah menembus pekatnya malam. Bagi orang lain yang berada di kejauhan, pelita yang dilihat menjadi penanda bahwa seseorang telah datang.
Ingat cerita Yesus tentang lima gadis bodoh dan lima bijaksana, mereka masing-masing membawa pelita untuk menyambut mempelai datang. Kemeriahan pesta perjamuan kawin diterangi oleh pelita sehingga malam pekat dapat berubah menjadi terang dan pesta berlangsung meriah.
Jauh sebelum masa kehidupan Tuhan Yesus, pelita telah ada dan oleh pe Mazmur dijadikan sebagai gambaran tentang Firman Tuhan yang memberikan pencerahan dan penerangan di perjalanan kehidupan yang pekat.
Mengapa harus Firman Tuhan? Bukankah banyak aturan-aturan etika dalam hidup yang berkualitas baik bagi kehidupan? Bukankah aturan hukum yang berlaku umum cukup mewadahi segala kebutuhan kebaikan dalam hidup?
Pe Mazmur mengidekan Firman Tuhan sebagai pelita, tentu bukan tanpa alasan yang kuat. Aturan buatan manusia biasanya dibuat berdasarkan pengalaman. Ketika berhadapan dengan sebuah kasus, aturan baru dibuat untuk antisipasi di masa depan.
Bisa berubah seiring waktu dan sering terhubung dengan siapa yang memegang kekuasaan. Ironisnya, semua aturan baik bisa berubah dengan muatan kepentingan dan kebutuhan.
Apalagi jika dikaitkan dengan konteks yang dihadapi, maka dipastikan aturan baik selalu baik sesuai konteksnya, bersifat lokal dan hanya menjadi budaya tertentu dalam sejarah.
Sementara itu, Firman Allah adalah Allah itu sendiri. Dia kekal mengatasi ruang dan waktu. Jika Firman itu dijadikan pedoman dalam kehidupan, dipastikan tidak akan berubah sampai kapanpun. Nilai kebaikan yang ada adalah kekal, berlaku kapanpun dan berhadapan dengan konteks apapun.
Maka ada jaminan kepastian bahwa yang dilakukan adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Jadikan Firman Allah sebagai pedoman utama dalam menjalani kehidupan. Alkitab telah tersedia untuk dibaca dan dipahami maknanya. Dalam kisah kehidupan orang percaya selalu tersemat Firman Tuhan yang dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan.
Jadikan Firman Tuhan sebagai pelita yang menjadi terang dalam perjalanan kehidupan. Amin
Renungan harian oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_feri-nugroho.jpg)