Korban Begal Jadi Tersangka

Dibebaskan Dari Kasus Pembunuhan Dua Begal, Amaq Sinta: Alhamdulillah Saya Bebas

Amaq Sinta yang sebelumnya dijadikan tersangka karena melawan dan menewaskan dua pembegal, akhirnya bebas.

Editor: Rahimin
Tribun Lombok/Laelatunniam
Amaq Sinta (kanan) dan kuasa hukumnya Yan Mangandar dalam jumpa pers di Markas Polda NTB, Sabtu (16/4/2022). 

TRIBUNJAMBI.COM - Kasus pembunuhan dua begal yang dilakukan Murtede alias Amaq Sinta, warga Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya dihentikan.

Amaq Sinta yang sebelumnya dijadikan tersangka karena melawan dan menewaskan dua pembegal, akhirnya bebas.

Amaq Sinta bebas setelah kasusnya dihentikan oleh Kepolisian Daerah (Polda) NTB.

Amaq Sinta dihadirkan pihak kepolisian saat pengumuman kasus tersebut dihentikan.

"Alhamdulillah saya bebas, perasaan saya senang dan bersyukur," katanya dengan kepala tertunduk di hadapan media, Sabtu (17/4/2022).

Amaq Sinta berpesan agar masyarakat berani melawan kejahatan. "Tidak ada kata lain selain melawan," katanya.

Baca juga: Kasus Korban Bunuh Begal Jadi Tersangka Dihentikan Setelah Gelar Perkara

Baca juga: Kasus Pembunuh Begal Jadi Tersangka di SP3, Kapolda NTB Beri Alasan Ini

Penghentian penyidikan kasus ini setelah Polda NTB menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas status tersangka Murtede.

Hal itu dikatakan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Pol Djoko Purwanto. 

"Laporan polisi berkaitan dengan atau nomor polisi LP 137, untuk saat sekarang dilakukan penghentian penyidikan. Administrasi penyidikan berkaitan dengan penghentian penyidikan akan dilakukan segera oleh penyidik," katanya dalam jumpa pers di Mapolda NTB, Sabtu.

Menurut Irjen Pol Djoko Purwanto, hasil gelar perkara disimpulkan, tindakan yang dilakukan Amaq Sinta tidak memenuhi unsur pidana.

"Fakta yang disampaikan dalam gelar perkara khusus tadi adalah yang dilakukan oleh saudara M (Murtede alias Amaq Sinta) adalah perbuatan pembelaan terpaksa. Sehingga, tidak diketemukannya unsur perbuatan melawan hukum baik secara formil dan materiil," ujarnya.

Dijelaskan Irjen Pol Djoko Purwanto, hukum formil yang dimaksudkan, sebagaimana diatur dalam Pasal 49 ayat 1 KUHP.

Isinya, seseorang tidak dapat dihukum karena melakukan perbuatan pembelaan darurat untuk membela diri atau orang lain atau hartanya dari serangan atau ancaman yang melawan hukum.

Secara hukum materil adalah perbuatan yang dilakukan oleh Amaq Sinta atas kematian dua begal yang menyerangnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved