Korban Begal Jadi Tersangka

Amaq Sinta Bunuh Dua Begal Karena Terpaksa, Polri: Tidak Ada Unsur Pidana

Awalnya Amaq Sinta dijadikan tersangka dalam kasus ini, namun akhirnya kasus ini di SP3 oleh pihak kepolisian.

Editor: Rahimin
Tribun Lombok/Laelatunniam
Amaq Sinta (kanan) dan kuasa hukumnya Yan Mangandar dalam jumpa pers di Markas Polda NTB, Sabtu (16/4/2022). 

TRIBUNJAMBI.COM - Murtede alias Amaq Sinta membunuh dua tersangka begal yang melakukan kejahatan pada dirinya.

Amaq Sinta melakukan perlawanan saat kawanan begal hendak merampas motornya.

Amaq Sinta melawan, dan membunuh dua pembegal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Awalnya Amaq Sinta dijadikan tersangka dalam kasus ini, namun akhirnya kasus ini di SP3 oleh pihak kepolisian.

Menurut Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Irjen Pol Djoko Purwanto, Amaq Sinta dinyatakan hanya melakukan perbuatan pembelaan terpaksa oleh Polri.

Karena itu, tidak ditemukan adanya unsur pidana dalam kasus yang menjerat Amaq Sinta.

Baca juga: Kasus Korban Bunuh Begal Jadi Tersangka Dihentikan Setelah Gelar Perkara

Baca juga: Kasus Pembunuh Begal Jadi Tersangka di SP3, Kapolda NTB Beri Alasan Ini

"Peristiwa tersebut merupakan perbuatan pembelaan terpaksa sehingga tidak ditemukan adanya unsur perbuatan melawan hukum baik secara formil dan materil," kata Irjen Pol Djoko Purwanto kepada wartawan, Sabtu (16/4/2022).

Irjen Pol Djoko Purwanto bilang, kesimpulan diambil setelah penyidik melakukan gelar perkara bersama Polda dan pakar hukum.

Hasilnya, pihaknya sepakat untuk menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).

Irjen Pol Djoko Purwanto menjelaskan, keputusan dari gelar perkara berdasarkan peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019, Pasal 30 tentang penyidikan tindak pidana bahwa penghentian penyidikan dapat dilakukan demi kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan. 

"Peristiwa yang dilakukan oleh Amaq Sinta merupakan untuk membela diri sebagaimana Pasal 49 Ayat (1) KUHP soal pembelaan terpaksa," katanya.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo menekankan penghentian perkara tersebut dilakukan demi mengedepankan asas keadilan, kepastian dan terutama kemanfaatan hukum bagi masyarakat. 

 "Dalam kasus ini, Polri mengedepankan asas proporsional, legalitas, akuntabilitas dan nesesitas," ujarnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Polri Simpulkan Kasus Korban Begal Bunuh Pembegal di Lombok Hanya Perbuatan Pembelaan Terpaksa

Baca juga: Korban Begal di NTB Jadi Tersangka, Kompolnas: Kalau Terbukti Membela Diri, Kasus Patut Dihentikan

Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved