Penyebab Iklim di Indonesia Sulit Diprdisksi, Begini Penjelasan BMKG
Kondisi iklim di Indonesia saat ini sulit diprediksi, apa penyebabnya? Simak penjelasan BMKG.
TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kondisi iklim di Indonesia saat ini sulit diprediksi, apa penyebabnya?
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan letak Indonesia yang diapit oleh dua samudera dan juga dua benua, sangat memengaruhi kondisi iklim di tanah air.
Diketahui, secara geografis Indonesi terletak di antara dua benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara dua samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan adanya letak geografis tersebut menjadikan iklim Indonesia sangat kompleks dan dinamis.
Hal itu disampaikan Dwikorita dalam kegiatan festival sekolah lapang BMKG secara virtual, Rabu (23/3/201).
"Kondisi iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dua benua, benua Asia dan benua Australia serta Samudra Hindia dan Samudra Pasifik," ujar Dwikorita.
Baca juga: Mengenal Sosok Rara Isti Mandalika Si Pawang Hujan Ajang MotoGP 2022, Ternyata Sudah Seorang Indigo
Menurutnya, hal itu menyebabkan terjadinya pengendali iklim seperti El Nino, La Nina kemudian Dipole Mode dan suhu muka air laut, baik di perairan Indonesia atau pun di perairan sekitar Indonesia.
Tak hanya itu, letak geografis ini juga mengakibatkan adanya pengendali lain yakni moonson (angin muson) yang selalu bertiup ke wilayah Indonesia.
Dia mengungkapkan keseluruhan tersebut kemudian mempengaruhi variabilitas iklim di indonesia.
Hal tersebutlah yang kemudian menjadi faktor penguat, cuaca di tanah air menjadi tidak pasti dan cepat berubah.
“Jadi, dengan letak geografis ini, fenomena iklim di Indonesia sangat kompleks beda dengan iklim yang ada di negara-negara yang berada di benua, selain sangat kompleks juga sangat tidak pasti karena sangat dinamis, mudah atau cepat mengalami perubahan," sambungnya.
Baca juga: Cuaca Ekstrem di Tanjabtim, Puncak Musim Hujan Hingga Minggu Pertama Puasa
Lebih lanjut, Dwikorita mengatakan, dari kondisi cuaca yang kompleks dan tidak pasti itu saat ini juga diperparah dengan berbagai kejadian fenomena perubahan iklim global, salah satunya yakni akibat dari efek gas rumah kaca.
"Dampaknya, teman-teman klimatologi sudah mempelajari, mengkaji, kejadian ekstrem makin sering terjadi, tinggi intensitasnya dan panjang durasinya," katanya.
Untuk itu, kini BMKG, lanjut dia, dipercaya oleh Badan Meteorologi Dunia untuk memantau kondisi gas rumah kaca dengan stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) yang ada di Bukit Kototabang, Sumatera Barat.
Hal ini dilakukan guna mencegah semakin parahnya kompleksitas akibat perubahan iklim dunia.
“Ini kepercayaan dunia kepada BMKG sebagai salah satu global atmosferic watch di Bukit Kototabang telah mendeteksi adanya peningkatan signifikan konsentrasi CO2 yang ada di khatulistiwa Indonesia dalam kondisi ambien, artinya dalam kondisi yang belum tercemar, masih alamiah,” kata dia.
Berita ini telah tayang di Kompas.tv
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/petir-menyambar.jpg)