Perang Rusia Ukraina

Amerika Beri Peringatan Keras ke China Jangan Bantu Rusia, Akan Ada Sanksi Skala Besar

Rusia belum merebut satu pun dari 10 kota terbesar di Ukraina sejak memulai serangannya pada 24 Februari lalu, serangan paling besar terhadap negara E

Editor: Rahimin
AFP/SERGEY BOBOK
Pemandangan alun-alun di luar balai kota Kharkiv yang rusak pada 1 Maret 2022, hancur akibat penembakan pasukan Rusia. 

TRIBUNJAMBI.COM - Terkait Invasi Rusia ke Ukraina, Amerika Serikat (AS) memberi peringatan pada China.

Amerika Serikat memperingatkan agar China tidak membantu Rusia dalam invasinya ke Ukraina, setelah pembicaraan pada Senin (14/3/2022)

Rusia belum merebut satu pun dari 10 kota terbesar di Ukraina sejak memulai serangannya pada 24 Februari lalu, serangan paling besar terhadap negara Eropa sejak Perang Dunia Kedua.

Moskow menyebut tindakan di Ukraina sebagai "operasi militer khusus" untuk "mendenazifikasi" negara itu.

Seperti dikutip dari CNA, Rusia meminta bantuan militer dan ekonomi dari Beijing, menurut pejabat AS.

Moskow menyangkal hal itu, dengan mengatakan mereka memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi semua tujuannya.

Kementerian luar negeri China menyebut laporan bantuan itu sebagai "disinformasi".

China mengisyaratkan kesediaan untuk memberikan bantuan kepada Rusia, kata seorang pejabat AS.

Laporan itu muncul saat Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan bertemu diplomat top China Yang Jiechi untuk melakukan pembicaraan di Roma.

"AS berkomunikasi secara langsung, secara pribadi ke Beijing bahwa pasti akan ada konsekuensi untuk upaya penghindaran sanksi skala besar atau dukungan kepada Rusia untuk mengisinya kembali," kata Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan Dikutip dari BBC. 

"Kami tidak akan membiarkan hal itu berlanjut dan membiarkan ada jalur kehidupan bagi Rusia dari sanksi ekonomi ini dari negara mana pun, di mana pun di dunia," sambungnya.

Anggota layanan Ukraina terlihat di lokasi pertempuran dengan kelompok penyerang Rusia di ibukota Ukraina, Kyiv, pada pagi hari 26 Februari 2022, menurut personel layanan Ukraina di tempat kejadian. - Lebih dari 2.100 penduduk Mariupol telah tewas sejak invasi Rusia dimulai.
Anggota layanan Ukraina terlihat di lokasi pertempuran dengan kelompok penyerang Rusia di ibukota Ukraina, Kyiv, pada pagi hari 26 Februari 2022, menurut personel layanan Ukraina di tempat kejadian. - Lebih dari 2.100 penduduk Mariupol telah tewas sejak invasi Rusia dimulai. (AFP/SERGEI SUPINSKY)

Ia menambahkan, AS percaya China menyadari pemimpin Rusia Vladimir Putin merencanakan sesuatu sebelum invasi terjadi, Beijing mungkin tidak memahami sepenuhnya.

"Sangat mungkin Putin berbohong kepada mereka dengan cara yang sama seperti dia berbohong kepada orang Eropa dan lainnya," kata Sullivan.

Juru bicara kementerian luar negeri di Beijing, Zhao Lijian mengatakan, AS telah "telah menyebarkan disinformasi yang menargetkan China pada masalah Ukraina, dengan niat jahat".

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved