Kasus Nurhayati, ICW: Harusnya Polres Cirebon Tidak Gegabah

ICW ikut menyoroti kasus Nurhayati Kaur Keuangan Desa Citemu yang ditetapkan sebagai tersangka setelah membongkar kasus korupsi dana desa.

Capture Video Viral
Beredar video pengakuan bendahara atau Kaur Keuangan Desa Citemu, Kabupaten Cirebon, bernama Nurhayati. Lapor kasus korupsi, malah jadi tersangka. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA- Indonesia Corruption Watch (ICW) ikut menyoroti kasus Nurhayati Kaur Keuangan Desa Citemu yang ditetapkan sebagai tersangka setelah membongkar kasus korupsi dana desa.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana mengatakan Nurhayati yang dipolisikan Polres Cirebon tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporannya.

“Pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporannya,” ucap Kurnia, dalam keterangan tertulisnya kepada KOMPAS TV, Rabu (23/2/2022).

Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) dan (2) UU PSK Kurnia menegaskan, bahwa jika ada tuntutan hukum terhadap pelapor atas laporannya tersebut, maka tuntutan hukum itu wajib ditunda hingga kasus yang ia laporkan telah diputus oleh Pengadilan dan telah berkekuatan hukum tetap.

“Atas dasar ini, seharusnya Polres Cirebon tidak kemudian gegabah dalam mengambil langkah untuk menetapkan Nurhayati sebagai tersangka atas inisiatifnya melaporkan dugaan korupsi,” kata Kurnia.

Kurnia juga menilai pemberangusan peran serta masyarakat berpotensi besar melanggengkan praktik korupsi.

Baca juga: Ganjar Pranowo Bela Nurhayati yang Jadi Tersangka Usai Laporkan Kasus Korupsi Dana Desa

Dalam konteks korupsi dana desa misalnya, berdasarkan catatan Tren Penindakan Korupsi Indonesia Corruption Watch (ICW) Semester I Tahun 2021, sektor dana desa paling rawan dikorupsi dengan nilai kerugian negara mencapai Rp 35,7 miliar.

“Hal ini sejalan dengan data yang menyatakan bahwa lembaga yang paling sering ditangani oleh aparat penegak hukum adalah pemerintahan desa,” ujar Kurnia.

Selain itu, lanjutnya, aparatur desa juga masuk dalam 10 besar aktor paling banyak terjerat kasus korupsi.

“Atas kondisi buram ini, bukan tidak mungkin sektor dana desa akan semakin menjadi ladang basah korupsi,” kata Kurnia.

Atas dasar itu, Kurnia menyampaikan ICW mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengambil langkah dalam memberikan perlindungan kepada Nurhayati sebagai bentuk untuk mendukung upaya pemberantasan dan pencegahan korupsi di Indonesia.

“Sebab, mengacu konsideran UU PSK, untuk meningkatkan upaya pengungkapan secara menyeluruh suatu tindak pidana, khususnya tindak pidana transnasional yang terorganisasi, perlu diberikan perlindungan terhadap saksi pelaku, pelapor, dan ahli,” ujarnya.

“Jadi, LPSK harus pro aktif mendampingi Nurhayati,” sambung Kurnia.

Baca juga: Bongkar Kasus Korupsi Dana Desa ke Polisi, Bendahara Desa Citemu Cirebon Malah Jadi Tersangka

Di samping itu, ICW berpendapat KPK harus segera menyelesaikan sengkarut koordinasi antara Kejaksaan Negeri Cirebon dan Polres Cirebon dengan cara melakukan koordinasi dan supervisi.

Apalagi kesimpulan ini bukan tanpa dasar, sebab pada tahun 2020, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 102 tahun 2020 (PerPres 102/2020) tentang Pelaksanaan Supervisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang di dalamnya memuat kewenangan lembaga anti-rasuah tersebut untuk mengawasi proses penanganan perkara korupsi yang ditangani oleh Kejaksaan dan Kepolisian.

“Kewenangan itu secara jelas dituangkan dalam Pasal 6 ayat (1) PerPres 102/2020,” kata Kurnia Ramadhana.

“Bahkan kewenangan untuk melakukan koordinasi dan supervisi juga sudah diatur dalam Pasal 6 juncto Pasal 8 huruf a UU No. 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” tambahnya.

Berita ini telah tayang di Kompas.tv

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved