UMKM Jambi
Cara Tetap Bertahan Selama Pandemi, Begini Trik yang Dilakukan UMKM di Marene Ini
Melihat banyaknya animo, dia terus meluncurkan berbagai produk baru, keripik pisang menjadi produk kedua yang lahir selama pandemi
Penulis: Rahimin | Editor: Rahimin
TRIBUNJAMBI COM, JAMBI - Pendemi Covid-19 yang melanda Indonesia berdampak ke seluruh sektor, termasuk sektor ekonomi khususnya bagi pelaku UMKM.
Satu di antara pelaku UMKM yang terkena dampak pandemi Covid-19 adalah Fitria Ningsi.
Fitria Ningsi mengatakan, semenjak pandemi nyaris tidak ada penjualan.
"Bahkan untuk menjual satu loyang dalam sebulan aja susah," ujarnya beberapa waktu yang lalu.
Beruntung, Fitria Ningsi mendapatkan bantuan BLT UMKM dari pemerintah.
Program Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) Rp 1,2 juta dari pemerintah diterima Fitria Ningsi yang dicairkan melalui bank BRI.
Dengan adanya bantuan tunai tersebut, Fitria Ningsi bisa bertahan melanjutkan usahanya.
Dia merasakan sekali manfaat bantuan untuk UMKM yang diberikan pemerintah itu. Digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan menambah modal usaha.
Yang dilakukannya agar tetap bisa mempertahankan bisnisnya, Fitria Ningsri menghadirkan berbagai menu baru.
Awalnya Fitria Ningsi membuat sambel terasi yang dikemas dalam standing pouch.
Melihat banyaknya animo, dia terus meluncurkan berbagai produk baru, keripik pisang menjadi produk kedua yang lahir selama pandemi.
Lalu diteruskan dengan desert dan ayam geprek.
Agar dapat menarik konsumen, Fitria Ningsi menghadirkan berbagai produk yang tidak biasa.
Seperti ayam geprek buatan nya yang mengunakan nasi hijau, sehingga dapat menarik minat konsumenya untuk terus memesan produknya tersebut.
Fitria Ningsi mengatakan, teknik penjualan online yang digunakannya membuat dia leluasa untuk menghadirkan berbagai menu ataupun nyimpan menu tertentu.
"Teknik penjualan saya saat ini lebih ke wait and see," katanya.
Dengan teknik ini, sebelum memproduksi menu tertentu dia bisa melihat kondisi pasar dan bahan baku.
Seperti beberapa waktu yang kalau di saat minyak goreng dan ayam mahal, menu ayam geprek dan sambel goreng tidak diproduksinya.
"Saya menunggu sampai kondisi stabil dulu," katanya.
Dikatakan Fitria Ningsi, saat ini penjualan kue basahnya masih belum stabil.
"Biasanya dari tanggal 1-15 itu banyak pesanan, tapi saat ini sedikit sekali," pungkasnya.
Baca juga: Banyak Manfaat Dirasakan UMKM Rumah Madu Hutan Jambi Sejak Bergabung di Rumah BUMN
Baca juga: Saat Pandemi Penjualan di UMKM Rumah Madu Hutan Jambi Tetap Meningkat, Ini Rahasianya