Anggota Geng Motor Ditangkap

Sahuri Lasmadi: Pencegahan Kejahatan Remaja Jadi Tanggung Jawab Negara

Komplotan geng motor yang kerapkali melakukan tindak kriminal di Kota Jambi berhasil diamankan polisi.

Penulis: Fitri Amalia | Editor: Teguh Suprayitno
tribunjambi/aryo tondang
Pres release penangkapan 14 anggota geng motor yang meresahkan warga Kota Jambi. 

TRIBUNJAMBI.COM, KOTA JAMBI - Komplotan geng motor yang kerapkali melakukan tindak kriminal di Kota Jambi berhasil diamankan polisi. Mirisnya anggota geng motor yang melakukan tindak kriminal tersebut rata-rata berusia remaja.

Menurut Dr. Sahuri Lasmadi, Pengamat Hukum, ada faktor internal dan faktor eksternal yang membuat remaja-remaja saat ini mau bergabung menjadi geng motor dan melakukan tindak kriminal.

Faktor internal dari pelaku itu sendiri, yang umumnya terpengaruh karena dalam lingkungan keluarga yang broken home atau keluarga yang kurang harmonis yang menyebabkan keretakan rumah tangga. Faktor eksternal yakni dari pergaulan dari lingkungan sekitar dan juga kurangnya pengawasan dari orangtuanya.

"Selain itu faktor internal lainnya dari pemerintah, pemerintah perlu juga melakukan penyuluhan entah itu dari pemerintah daerah, dari kepolisian, kejaksaan dan berikan pengarahan ke remaja-remaja, tapi tampaknya kegiatan seperti itu tidak ada, itu kan faktor eksternal juga untuk mencegah," ujarnya.

Menurut Sahuri pemerintah sedini mungkin dapat melakukan general prevention atau pencegahan umum baik itu dari pemerintah daerah, polisi, dan jaksa. Kurangnya pengarahan mengakibatkan remaja saat ini lepas arah dan tidak memikirkan akibat atau resiko dari perbuatan mereka.

Baca juga: Polisi Akhirnya Tangkap Gembong Geng Motor di Kota Jambi, Ternyata Ada 3 Kelompok

"Apalagi saat ini teknologi berkembang pesat, semua informasi bisa didapat dengan cepat dan mereka merasa dengan kumpul-kumpul, jika berhasil melakukan tindak kriminal contohnya membegal dapat untuk besar tetapi mereka tidak memikirkan akibat, resikonya itu, anak-anak muda seharusnya diberikan pencerahan," bebernya.

Terkait pertanggungjawaban pidana yang akan menjerat pelaku Sahuri mengatakan harus dilihat lagi dari UU SPP Anak. Anak yang usianya di atas 12-14 tahun biasanya dalam tindak pidana dilakukan usaha mediasi atau diversi.

"Jika diversi tidak ketemu baru naik perkara, kalo naik perkara biasanya di pengadilan tindakan dengan mengembalikan ke orangtuanya atau dipelihara oleh negara, jika umurnya 14 tahun ke atas itu bisa dipidana jika mediasi tidak ketemu, dan pidananya separuh dari dewasa, tapi diusahakan mediasi dulu dilihat umur berapa, tapi kadang susah juga kadang orangtuanya tidak berdaya juga nah disinilah negara berperan," jelasnya.

Intinya secara umum pencegahan kejahatan yang dilakukan anak remaja seharusnya jadi tanggung jawab pemerintah dengan memberikan pengarahan dan penyuluhan untuk mencegahnya sedini mungkin (general prevention).

Baca juga: Ketua Geng Motor di Kota Jambi Ditembak Polisi, Pesan Begini untuk Temannya: Tobatlah

"Apakah pemerintah sudah bekerja tidak untuk memberikan penyuluhan untuk mencegahnya, lain lagi kita sudah usahakan pencegahan, sudah kita beri pengarahan, kita berikan penyuluhan ke sekolah-sekolah, ada tidak pemerintah misalnya secara gradual memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah atau ke masyarakat langsung dibantu polisi dan jaksa menyampaikan hal-hal yang berbau hukum, tapi kalo memang tidak ada itu kan terlalu naif, ini kan tanggung jawab negara karena anak remaja ini mencari  identitas dan identitas itu harusnya diberikan oleh negara, diberikan pencerahan agar anak remaja sadar dan punya rasa tanggungjawab," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved