Berita Internasional

Kerusuhan di Kazakhstan, Korban Tewas Sudah 225 Orang, Buntut Protes Harga Bahan Bakar

Kerusuhan mematikan terjadi di Kazakhstan. Kerusuhan itu berawal dari harga bahan bakar. Ratusan orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan tersebut

Editor: Rahimin
AFP/ABDUAZIZ MADYAROV
Pengunjuk rasa ambil bagian dalam rapat umum terkait kenaikan harga energi di Almaty pada 5 Januari 2022. Korban tewas akibat kerusuhan di Kazakhstan menjadi 225 orang. 

TRIBUNJAMBI.COM - Aksi protes atas harga bahan bakar di Kazakhstan menimbulkan kerusuhan cukup besar di negara tersebut.

Akibat dari kerusuhan itu, korban tewas dilaporkan sudah 225 orang.

Kerusuhan itu memaksa pemerintah Kazakhstan meminta bantuan dari blok militer Rusia.

"Selama keadaan darurat, 225 jenazah telah dikirim ke kamar mayat. 19 diantaranya petugas penegak hukum dan personel militer," kata Serik Shalabayev perwakilan dari jaksa negara bagian, Sabtu (15/1/2022), seperti dilansir dari Al Jazeera.

Serik Shalabayev bilang, beberapa lainnya adalah bandit bersenjata yang berpartisipasi dalam serangan teroris.

“Sayangnya, warga sipil juga menjadi korban aksi terorisme,” ujarnya.

Pihak Kazakhstan sebelumnya mengakui kurang dari 50 kematian, 26 penjahat bersenjata dan 18 petugas keamanan dalam konflik yang mengekspos pertikaian di puncak pemerintahan.

Jumlah kematian lebih tinggi dari 164 yang muncul di saluran Telegram resmi minggu lalu dengan cepat ditarik kembali.

Asel Artakshinova juru bicara kementerian kesehatan mengatakan, lebih dari 2.600 orang mencari perawatan di rumah sakit, dengan 67 saat ini dalam kondisi serius.

Pihak berwenang di Kazakhstan menyalahkan kekerasan pada bandit dan teroris internasional yang mereka katakan membajak protes yang melihat pusat kerusuhan bergerak dari barat ke kota terbesar di negara itu, Almaty.

 Presiden Kassym-Jomart Tokayev meminta bantuan blok militer pimpinan Rusia selama kerusuhan dan mengesampingkan mantan pelindung dan pendahulunya Nursultan Nazarbayev dengan mengambil alih Dewan Keamanan Nasional.

Sementara, pasukan dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), aliansi enam negara bekas Soviet, membantu menenangkan kekerasan di negara Asia Tengah itu dan mulai mundur secara bertahap pada Kamis.

Setelah keluhan tentang pemukulan dan penyiksaan terhadap mereka yang ditahan setelahnya, Tokayev memerintahkan polisi pada Sabtu untuk menghindari pelanggaran dan mengatakan kepada jaksa agar bersikap lunak kepada mereka yang tidak melakukan kejahatan berat.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pada Sabtu semua pesawatnya yang membawa pasukan telah kembali.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved