Breaking News:

Berita Selebritis

Kabar Naoko Nemoto, Istri Soekarno yang Memilih Bisnis Perhiasan di Jepang

Artikel ini membahas kabar Dewi Soekarno, Istri Bung Karno yang Memilih Bisnis Perhiasan di Jepang

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Naoko Nemoto atau Ratna Dewi Soekarno. (istimewa) 

TRIBUNJAMBI.COM - Ratna Sari Dewi Soekarno ( adalah istri ke-5 Soekarno memilih menjalankan bisnis di Jepang.


Dewi adalah seorang wanita Jepang yang namanya cukup populer sebagai istri Soekarno.

Naoko Nemoto memilih berbisnis perhiasan di Jepang tempat tinggalnya.

Dewi Soekarno meninggalkan Indonesia dan  lebih sepuluh tahun bermukim di Paris.

 Sejak 1983 Dewi kembali ke Jakarta.

Kemudian Pada 2008 dia  kembali ke Jepang dan menetap di Shibuya, Tokyo.

Sejak  tahun 2008 Ratna Sari Dewi Soekarno menjalankan sendiri bisnis perhiasan dan kosmetik serta aktif dalam penggalangan dana.

Dewi Soekarno masih kerap tampil di acara TV Jepang dan menjadi juri untuk kontes kecantikan, seperti Miss International 2005 di Tokyo.

Kisah Cinta dengan Soekarno

Dari pernikahannya dengan Soekarno, dia mempunyai anak bernama Kartika Sari Dewi Soekarno.

Pertemuan  Dewi  dengan Soekarno lewat seorang relasi saat berada di Hotel Imperial, Tokyo.

Dia saat itu  berumur 19 tahun, Naoko Nemoto bertemu dengan Soekarno yang telah berumur 57 tahun sewaktu sedang dalam kunjungan kenegaraan di Jepang.

Kemudian, Sukarno mengundang Naoko ke Indonesia, hingga keduanya memutuskan menikah.

Menurut penulis Jepang, Aiko Kurasawaada  seorang perempuan Jepang yang hadir di tengah pergolakan politik dan limbungnya kekuasaan Soekarno pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan tragedi G30 S PKI.

Dia adalah  Ratna Sari Dewi, yang diperistri oleh Soekarno pada tahun 1962.

Dalam buku yang berjudul Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang, Aiko pun menulis bahwa perempuan yang dikenal dengan nama Dewi Soekarno berusaha melakukan berbagai upaya rekonsiliasi antara Soekarno dan Angkatan Darat.

Dia bahkan rela pergi ke Jepang, untuk bertemu dengan Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi Soekarno.

"Namun, saat itu, Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk berada di sisi Soeharto, dan secara bertahap meninggalkan Soekarno," kata Aiko dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (10/3/2016).



(Tribunjambi.com/Wikipedia).
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved