Breaking News:

Berita Selebritis

Kabar Ratna Sari Dewi, Istri Ke-5 Soekarno yang Memilih Menetap di Jepang

Artikel ini membahas tentang Kabar Ratna Sari Dewi, Istri Ke-5 Soekarno yang Memilih Menetap di Jepang

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Dok Pribadi
Ratna Sari Dewi saat masih muda 

TRIBUNJAMBI.COM - Ratna Sari Dewi Soekarno ( adalah istri ke-5 Soekarno yang merupakan Presiden Indonesia pertama.


Dewi adalah seorang wanita Jepang yang namanya cukup populer sebagai istri Soekarno.

Dari pernikahannya dengan Soekarno, dia mempunyai anak bernama Kartika Sari Dewi Soekarno.


Pertemuan  Dewi  dengan Soekarno lewat seorang relasi saat berada di Hotel Imperial, Tokyo.

Dia saat itu  berumur 19 tahun, Naoko Nemoto bertemu dengan Soekarno yang telah berumur 57 tahun sewaktu sedang dalam kunjungan kenegaraan di Jepang.


Kemudian, Sukarno mengundang Naoko ke Indonesia, hingga keduanya memutuskan menikah.

Sebelum menjadi istri Sukarno, ia adalah seorang pelajar dan entertainer.


Dia sempat  Dewi meninggalkan Indonesia dan  lebih sepuluh tahun bermukim di Paris.

 Sejak 1983 Dewi kembali ke Jakarta.

Kemudian Pada 2008 dia  kembali ke Jepang dan menetap di Shibuya, Tokyo.



. Setelah menikah, Sukarno memberinya nama Indonesia, Ratna Sari Dewi. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Kartika.[2]



Ratna Sari Dewi Soekarno adalah wanita yang dengan kepribadiannya yang terus terang.

 Ia sering disebut sebagai Dewi Fujin = Devi Fujin, secara harfiah "Ibu Dewi" atau "Madame Dewi").


Di  tahun 2008 Ratna Sari Dewi Soekarno menjalankan sendiri bisnis perhiasan dan kosmetik serta aktif dalam penggalangan dana.

Dia masih kerap tampil di acara TV Jepang dan menjadi juri untuk kontes kecantikan, seperti Miss International 2005 di Tokyo.

Kisah Pertemuan Dengan Soeharto


Sebelum kejatuhan Soekarno benar-benar terjadi, Dewi Soekarno sendiri sempat bertemu  Soeharto.

Soeharto memberi 3 tiga pilihan demi kebaikan Soekarano.

Menurut penulis Jepang, Aiko Kurasawaada  seorang perempuan Jepang yang hadir di tengah pergolakan politik dan limbungnya kekuasaan Soekarno pasca-peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan tragedi G30 S PKI.

Dia adalah  Ratna Sari Dewi, yang diperistri oleh Soekarno pada tahun 1962.

Dalam buku yang berjudul Peristiwa 1965: Persepsi dan Sikap Jepang, Aiko pun menulis bahwa perempuan yang dikenal dengan nama Dewi Soekarno berusaha melakukan berbagai upaya rekonsiliasi antara Soekarno dan Angkatan Darat.

Dia bahkan rela pergi ke Jepang, untuk bertemu dengan Perdana Menteri Sato pada 6 Januari 1966 untuk meminta dukungan bagi Soekarno.

"Namun, saat itu, Pemerintah Jepang telah memutuskan untuk berada di sisi Soeharto, dan secara bertahap meninggalkan Soekarno," kata Aiko dalam diskusi di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (10/3/2016).

Dalam periode tahun 1965, Jenderal M Jusuf diutus oleh Soeharto untuk menyampaikan perihal pertemuan itu.

Jusuf  mengaku prihatin terkait Soekarno yang dikelilingi oleh Soebandrio dan Hartini yang pro-PKI.

Dia minta kepada Dewi membujuk Soekarno  agar menyerahkan kekuasaan politik kepada Soeharto secara damai, dengan sepenuhnya tetap menyandang status sebagai presiden.

Jusuf berkata, hanya Dewi yang saat itu  dapat membujuk seorang Soekarno.

Menurut Aiko, Dewi pun belum sadar  atas seriusnya dampak Supersemar terhadap kekuasaan Soekarno.

Dewi menyambut  gembira dengan pelarangan terhadap PKI dan penahanan terhadap Soebandrio.

Pada tanggal 15 Maret 1966, Dewi  imerencanakan jamuan makan malam untuk merayakan pelarangan terhadap PKI.

Sayang  acara tersebut dibatalkan karena Soekarno marah besar.

Aiko juga bercerita, pada tanggal 20 Maret 1966, Soeharto pernah bermain golf dengan Dewi.

Menurut pemberitaan media Jepang, Asahi Shimbun, tanggal 23 Maret 1966, saat bermain golf, Soeharto menawarkan  tiga opsi terkait nasib Soekarno.

Pertama, pergi ke luar negeri untuk beristirahat.

Kedua, tetap tinggal sebagai presiden sebulan saja.

Ketiga, mengundurkan diri secara total.

Soeharto menyarankan  opsi pertama dan menyarankan Jepang atau Mekkah sebagai tempat peristirahatan.

"Belakangan, Dewi memberikan kesaksian kepada saya bahwa begitu mendengar tiga opsi saran Soeharto itu, Dewi menyadari bahwa ia dan suaminya telah kalah dalam pertandingan ini," tulis Aiko.



(Tribunjambi.com/Wikipedia).

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved