Berita Bungo

PT KIM Diduga Buang Limbah ke Sungai, Kadis LH Bungo Janji akan Cek ke Lapangan

Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bungo dalam waktu dekat ini akan melakukan penyelidikan terhadap PT Kuansing Inti Makmur (KIM).

Penulis: Muzakkir | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
Tribunjambi/Muzakkir
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bungo Giyatno 

"Kalau berbahaya atau tidak, kita belum tau. Yang jelas air yang keluar dari perusahaan sudah bersih. Air itu biasanya disaring terlebih dahulu, baru boleh dibuang," ungkap mantan Camat Babeko ini.

Sebelumnya, Humas PT KIM Faried mengklarifikasi kepada media menyebut jika itu bukanlah limbah. Katanya, air ditanjung Belit itu keruh akibat aktivitas PETI.

"Diatas itu ada aktivitas PETI," kata Faried belum lama ini.

Namun, pada kenyataannya air keruh tersebut bersumber dari paralon milik PT. KIM. Aliran sungai yang dimaksud dari aktivitas PETI tidaklah keruh.

Terpisah, Datuk Rio (Kepala Desa,red) Tanjung Belit Jondri Yusren. Kepada sejumlah awak media Jondri menyebut jika ada dua aliran air bekas tambang yang dialirkan ke sungai Batang Asam.

Kata dia, air tersebut mengalir pada saat-saat tertentu. Jika air tersebut mengalir, maka air sungai langsung berubah, sementara jika tidak ada aliran airnya, maka air sungai sangat jernih.

"Dari sepemantauan kami air keruh itu mengalir ke sungai Batang Asam pada saat hujan. Kadang malam hari. Mungkin sengaja supaya tidak kelihatan dengan orang banyak," ucap Jondri Yusren.

Menurut datuk rio juga, kondisi seperti itu sejak sekitar dua tahun terakhir masyarakat Tanjung Belit rasakan. Namun belakangan, keluhan dari masyarakat yang disampaikan kepadanya semakin sering dan banyak.

"Masyarakat tidak tahan lagi mandi dan menggunakan air keruh lagi. Biasanya kalau tidak hujan di hulu sangat deras air sungai tidak sampai keruh. Tapi belakangan tidak hujanpun sungai keruh. Dan kita dapatkan sumber keruhnya adalah dua parit yang mengalir dari tambang PT KIM dialiri ke sungai Batang Asam," ungkap Datuk Rio.

Jondri Yusren menyebut jika mereka telah beberapa kali menyampaikan keluhan warga tersebut, namun pihak perusahaan seperti kucing-kucingan.

"Kalau satuhari, dua hari bahkan seminggu ada responnya. Tapi setelah itu terjadi lagi pembuangan limbah," kata Jondri.

Kata dia, saat ini 80 persen warga Tanjung Belit masih menggunakan sungai untuk keperluan sehari-hari. Ketika limbah dibuang, masyarakat tidak bisa sama sekali menggunakan aliran sungai tersebut. Masyarakat yang memaksakan menggunakan aliran tersebut langsung terkena gatal-gatal.

"Ketika limbah dibuang, air sungai tidak bisa digunakan. Warga terpaksa menggunakan air sumur," imbuhnya.

Baca juga: Dosen di Jambi Uce Lestari Sukses Jadikan Limbah Sawit Sebagai Skincare Berkualitas Premium

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved