Youtuber Selebgram dan mahasiswa di Jambi Ikut Sosialisasi Pencegahan Paham Radikalisme

Masalah terorisme di Indonesia masih merupakan persoalan yang serius walaupaun sudah banyak pelaku teror yang berhasil ditangkap

Editor: Rahimin
istimewa
Pelajar, youtuber, selebgram, jurnalisme warga (citizen Journalism), dan mahasiswa di Provinsi Jambi mengikuti sosialisasi pencegahan paham radikalisme-terorisme dan penyebaran hoax di media sosial. 

Mereka mengikuti sosialisasi pencegahan paham radikalisme-terorisme dan penyebaran hoax di media sosial.

TRIBUNJAMBI.COM - Pelajar, youtuber, selebgram, jurnalisme warga (citizen Journalism), dan mahasiswa di Provinsi Jambi berkumpul di ruang pola kantor Gubernur Jambi, Kamis (9/12/2021).

Mereka mengikuti sosialisasi pencegahan paham radikalisme-terorisme dan penyebaran hoax di media sosial.

Acara tersebut diadakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jambi.

Empat narasumber dalam kegiatan tersebut, yakni Prof Dr H Ahmad Syukri Saleh (Ketua FKPT Prov Jambi),  H Mukti (Kaban Kesbangpol Provinsi Jambi),  Qamaruz Zaman (Kabid Penanganan Konflik Bakesbangpol Provinsi Jambi) dan  Prastito (Kasubbag Teknologi dan Siber Binda Jambi).

Staf Ahli Gubernur Asraf yang membuka kegaitan ini mengatakan, masalah terorisme di Indonesia masih merupakan persoalan yang serius walaupaun sudah banyak pelaku teror yang berhasil ditangkap dan menjalani proses hukum, serta sel-sel dan jaringan teroris yang dihancurkan.

Menurutnya, ekskalasi konflik di beberapa negara, maka potensi radikalisme dan munculnya aksi-aksi terorisme dikhawatirkan akan terus ada.

“Saya ingin memberikan pandangan bahwa sikap atau paham radikalisme dan terorisme hendaknya tidak dikaitkan pada suatu agama tertentu karena sikap atau paham demikian bisa terjadi pada semua agama atau golongan,” katanya.

Ia berharap dapat menempatkan pemahaman terhadap radikalisme dan terorisme pada porsi yang adil.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kita memiliki dasar negara, yakni Pancasila dan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 dan “pengikat yang mempersatukan” Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, yang merupakan gagasan brilian dari founding fathers (para pendiri bangsa).

“Ini harus kita pahami, dan dari pemahaman ini kita akan memiliki literasi (melek) untuk mengenali berbagai paham yang tidak sesuai dengan dasar negara dan konstirusi kita. Jadi, manakala paham-paham yang berseberanagn dengan ideologi tersebut beredar temasuk di media sosial, kita akan bisa mengenalinya dan tidak mudah terhasut oleh isinya, dan tidak akan menyebarluaskannya,” ujarnya.

Menurutnya, radikalisme, terorisme, dan hoax jangan diterima apalagi disebar, karena menerimanya sama dengan memcah persatuan dan kesatuan kita, merusak persaudaraan dan mengancam keutuhan negara.

Bukan itu saja, penyebaran radikalisme, terorisme, hoax, ujaran kebencian, dan SARA juga sangat berpotensi masalah hukum bagi penyebar, karena melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Jadi, bagi seluruh peserta jangan sampai merugikan driri sendiri, karena penyebarannya akan berususan dengan aparat penegak hukum,” katanya.

Kegiatan ini, kata Asraf sebagai langkah dan upaya untuk mendukung stabilitas keamanan dan kekondusifan, yang akan mendukung pelaksanaan pembangunan.

"Kita ingin ruang media sosial merupakan ruang konstruktif, boleh mengkritik tetap sifatnya harus membangun.  Kita juga ingin agar generasi muda dan warga net menjadi orang yang terbiasa berpikir dan bertindak positif,” ujarnya.

Baca juga: Badan Kesbangpol Jambi Gelar Rakor Sinkronisasi dan Inovasi Aplikasi SIPD 

Baca juga: Kesbangpol Jambi Gelar Rakor Bahas Percepatan Vaksinasi & Pemulihan Ekonomi Akibat Covid

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved