Breaking News:

Terungkap Soeharto Pernah jadi Pegawai Bank, Tentara Belanda hingga Polisi Jepang

Soeharto Pernah jadi Pegawai Bank, Tentara Belanda hingga Polisi Jepang

Editor: Heri Prihartono
Kompas.com
Jenderal Soeharto (kiri) dilantik menjadi anggota Kabinet Indonesia oleh Presiden Soekarno, 29 Juli 1966. | 
 
TRIBUNJAMBI.COM - Soeharto dulunya adalah  seorang pegawai Bank sebelum memutuskan jado seorang tentara.

Soeharto memutuskan berhenti jadi pegawai bank demi mewujudkan mimpinya jadi tentara.

Berikut kisah Soeharto dan perjalanan karirnya hingga jadi presiden  selama 32 tahun.

 Soeharto awalnya seorang  pegawai bank, sebelum akhirnya menjadi tentara dan presiden.

Soeharto dikenal dengan sifatnya yang cenderung pendiam dan tertutup.

 Soeharto juga dikenal sebagai anak rajin dan murah senyum ini termasuk lumayan gampang bergaul. Namun, teman yang benar-benar akrab dengannya hanya sedikit!

Soeharto muda juga aktif mengisi  waktunya dengan bertani.

Soeharto pengagum pakliknya, Prawirohardjo, paling jago menanam bawang bombai dan bawang putih.

Taman dari SD, Soeharto meneruskan ke Schakel School, sebuah sekolah menengah pertama yang ada di Wonogiri.

Terkendala jarak yang cukup jauh dari rumah buliknya, dia pun harus pindah.

Untuk  bisa  sekolah, Soeharto rela menumpang tinggal di rumah kakak Sulardi, sahabatnya, di Selogiri.

Soeharto dan Sulardi  tidur biasanya  sekamar berdua.

Namun seumur jagung tinggal di sana sayangnya  kakak Sulardi cerai dengan suaminya.

Sampai akhirnya  Soeharto mencari tempat "numpang tidur" yang baru.

 Soeharto kemudian  dititipkan pada sahabatnya, Hardjowijono.

Hardjowijono adalah pensiunan yang tidak memiliki anak dan  tinggal di Wonogiri.

Tahun 1939, Soeharto tamat dari  sekolah menengah pertamanya.

Setelah  ujian kelulusan, gelombang protes bangsa Indonesia terhadap penjajahan pemerintah kolonial Belanda kian  kencang.

Soeharto  memilih berkonsentrasi penuh pada ujian kelulusan.

Setelah tamat, Soeharto kembali pulang ke Wuryantoro, tempat buliknya (tante).

Pemicunya saat bapaknya tak mampu membiayai melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

 Soeharto meminta tolong dicarikan pekerjaan oleh pakliknya (oom).

Soeharto untuk sementara waktu berkerja sebagai juru tulis di sebuah bank desa.

Seragam kerja Soeharto terdiri dari blangkon, beskap dan sarung.

Ceritanya, sarung yang dikenakan Soeharto  tiap hari udah lusuh.

Dia  dipinjami oleh buliknya sarung kesayangannya.

Sarung-sarung itu ternyata  nyangkut di jari-jari sepeda yang sedang ia tunggangi.

Peristiwa tersebut mengakhiri perjalanan  Soeharto sebagai juru tulis bank desa.

Cari peruntungan ke Solo dan tentara Belanda

Setelah sempat  menganggur, Soeharto mencoba peruntungan ke Solo.

Seorang teman lalu menginformasikan bahwa Angkatan Laut Belanda sedang mencari juru masak.

Sampai di Solo, lowongan itu tidak ada.

Dengan rasa kecewa, Soeharto memilih kembali ke Wuryantoro.

Kerja Serabutan

Soeharto sempat kerja serabutan, dari ikut membangun langgar sampai membersihkan selokan air, supaya bisa menyambung hidup.

Soeharto akhirnya tertarik mengikuti pendaftaran Angkatan Perang Belanda (KNIL).

Pada 1 Juni 1940 Soeharto mantap mendaftar sebagai prajurit dan setelah diterima dia mendapat latihan kemiliteran yang keras.

Soeharto tidak henti-hentinya digembleng fisik dan mental.

 Soeharto muda tidak merasa tertekan.

Berbekal kehidupan masa kecil yang serba tak pasti, justru membuatnya kepincut dengan disiplin keras dan keteraturan yang diajarkan di sana.

Soeharto akhirnya dinyatakan  lulus sebagai kadet terbaik di angkatannya.

Selesai menjalani pelatihan kemudian Soeharto dikirim ke Batalyon XIII di Rampal, Malang.

Pada 2 Desember 1940 Soeharto menyandang gelar kopral.

Soeharto kemudian menuju Gombong buat menjalani latihan lanjutan. Dan, begitu lulus dinaikkan pangkatnya jadi sersan.

Baru mendapat  gelar sersan mendadak Jepang merapat ke Indonesia.

Jepang  menyerang Belanda untuk merebut Indonesia.

Belanda dinyatakan kalah, karier Soeharto sebagai prajurit terhenti.

Soeharto memutuskan pergi ke Yogyakarta kemudian mencari pekerjaan baru.

Di Yogyakarta, Soeharto memilih belajar mengetik supaya punya bekal mencari kerja lain.

Tidak lama kemudian Soeharto  sakit.

Soeharto mendapati pengumuman bahwa satuan polisi Jepang, Keibuho, membuka lowongan.

 Soeharto kemudian memutuskan mendaftar.

Dia kemudian  di Keibuho dan karier Soeharto cepat melesat.

Kemampuan Soeharto mulai santer tersebar.

PETA atau Pembela Tanah Air, sebuah kekuatan sosial yang didirikan oleh putra-putri negeri untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membujuk Soeharto untuk   bergabung.

Soeharto setuju dan  mulai melakukan "dualisme": tetap jadi anggota Keibuho, namun diam-diam ikut PETA.

Dari PETA inilah karier militer dan politik Soeharto di Indonesia merangkak naik.

Sampai akhirnya, dia bisa jadi Presiden ke-2 Rl dan berkuasa selama 32 tahun.

Artikel ini pernah tayang di Majalah Hai edisi 18 Februari 2008

(Tribunjambi.com)
 
 
 
 
 
 
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved