Breaking News:

Berita Tebo

WIKIJAMBI Tradisi, Tata Cara dan Makna Mandi Kaek Bayi Masyarakat Sungai Bengkal

Mandi Bayi Kaek adalah tradisi dari masyarakat di Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Penulis: Sopianto | Editor: Nani Rachmaini
SOPIAN/TRIBUNJAMBI.COM
WIKI TRIBUN Tradisi Mandi Kaek Bayi Baru Lahir di Kelurahan Sungai Bengkal Kabupaten Tebo 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA TEBO-Mandi Bayi Kaek adalah tradisi dari masyarakat di Kelurahan Sungai Bengkal, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.

Tradisi ini berkenaan dengan kelahiran bayi, di mana bayi berusia tujuh hari dan umumnya sudah lepas tali pusar akan dilakukan tradisi mandi kaek.

Novpriadi, salah satu pewaris budaya tak benda Tebo menceritakan terkait dengan tradisi ini. Ia menyebut bahwa tradisi ini merupakan tradisi turun temurun dari orang tua pada jaman dahulu.

Sebelum seperti saat ini, masyarakat yang hendak melahirkan, dalam proses kelahirannya selalu dibantu oleh seorang dukun.

Setelah lahiran, bayi tersebut digendong didampingi orang tuanya dan kaum kerabatnya dibawa ke suatu tempat untuk dimandikan.

"Kalau dulu itu tradisi mandi bayi kaek itu langsung pakai air dari Sungai Batanghari. Namun dengan kondisi Sungai Batanghari hari ini sudah sedikit tercemar maka terjadi pergeseran, artinya masyarakat sudah melaksanakan turun mandi itu di rumah" terang Novpriadi.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa air yang telah dipersiapkan tersebut kemudian ditambah dengan kembang tujuh rupa.

Kata Novpriadi, kembang tujuh rupa tersebut tidak boleh kurang, namun jika lebih dari ketentuan tersebut diperbolehkan. Selain itu, ditambah lagi dengan tiga lembar sirih masak, paku sebatang, dan sebutir batu.

"Kalau orang dulu bilang mantra, itu ucapannya mudik aek iler aek ambek aek pepatan batang jauh kau hantu aek, kami nak mandikan cucu adam," ungkap Novpriadi.

Usai dibacakan ucapan tersebut, kemudian dilanjutkan dengan mandi bayi, dengan secara berurutan, ari sungai lalu air kembang dan terakhir ditiupkan degan kencur jeringau.

Lalu bayi dipakaikan handuk dan berpakaian hingga kembali ke dalam rumah untuk selanjutnya diayunkan.

Setelah itu, orangtua atau pihak keluarga menyiapkan kain panjang sebanyak tiga lembar yang kemudian dibentangkan atau kain tersebut dibuka lebar-lebar.

Pada ujung dan kiri dan kanan dipegang oleh perwakilan dari pihak keluarga sang bayi.

"Selanjutnya bayi diayun dan dikelilingi asap tunam sambil dibacakan shalawat nabi dan doa-doa tentunya untuk keselamatan bayi. Terakhir, arak hitam tunam digosokkan ke dahi bayi," sebutnya.
Tribunjambi.com/Sopianto

Baca juga: WIKIJAMBI Melihat Tradisi Mandi Kaek Bayi Baru Lahir di Kelurahan Sungai Bengkal Kabupaten Tebo

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved