Breaking News:

Berita Tanjabbar

Mengenal Tradisi Lesung Betingkah di Dusun Aur Gading Kelurahan Lubuk Kambing Kabupaten Tanjab Barat

Untuk menghasilkan melodi betingkah, penumbuk di sisi kiri dan kanan ini mengarahkan tumbukkannya ke arah pinggiran lesung, bukan ke arah padi.

Penulis: Danang Noprianto | Editor: Nani Rachmaini
DANANG/TRIBUNJAMBI.COM
Untuk menghasilkan melodi betingkah, penumbuk di sisi kiri dan kanan ini mengarahkan tumbukkannya ke arah pinggiran lesung, bukan ke arah padi. Tradisi lesung betingkah di Tanjabbar. 

TRADISI Lesung Betingkah ini telah ada sejak dahulunya. Betingkah sendiri artinya yaitu melodi atau irama

1. Asal Usul Lesung Betingkah

Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Abdul Latif menjelaskan Lesung betingkah merupakan tradisi masyarakat dusun Aur Gading Kelurahan Lubuk Kambing, Kecamatan Renah Mendaluh Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Tradisi ini terbentuk sebuah kegiatan sosial masyarakat setempat untuk menumbuk padi menjadi beras dengan menggunakan lesung.

Berdasarkan informasi dari narasumber Bapak Tamnia dan Bapak Samsul Bahri selaku masyarakat dan pelaku tradisi Lesung Betingkah di dusun Aur Gading tersebut menyatakan bahwa Lesung Betingkah ini hanya ada di dusun mereka dengan ciri khas Lesung Bertingkat dua, pelaku atau pemain lesung berjumlah enam orang menumbuk secara bergantian dan dua orang menjadi betingkah (melodi dan irama).

Tradisi Lesung Betingkah ini menurut narasumber telah ada sejak dahulunya. Betingkah sendiri artinya yaitu melodi atau irama, maksudnya yaitu dalam menumbuk Lesung Betingkah ini tidak hanya sembarang bunyi yang dihasilkan dari tumbukan yang dilakukan, tetapi memiliki irama karena dengan adanya dua orang yang menjadi melodi di bagian sisi kiri dan kanan lesung. Sehingga bunyi yang dihasilkan lesung berirama dan teratur.

Untuk menghasilkan melodi betingkah, penumbuk di sisi kiri dan kanan ini mengarahkan tumbukkannya ke arah pinggiran lesung, bukan ke arah padi. Penumbuk yang di sisi kanan mengayunkan tumbukan sebagai melodi berwarna hitam dan kayunya sudah kering. Dengan teknik tumbukan inilah yang dikatakan ciri khas Lesung Betingkah.

Tradisi lesung betingkah di Tanjabbar
Tradisi lesung betingkah di Tanjabbar (DANANG/TRIBUNJAMBI.COM)

Lesung Betingkah ini dikatakan Abdul Latif memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengimbau masyarakat setempat ketika ada helatan, dengan bunyi yang dihasilkan dari lesung tafi maka masyarakat akan berkumpul ke tempat di mana lesung itu berada. Juga lesung ini berguna untik menumbuk padi bersama ketika musim panen telah tiba.

2. Bentuk Lesung Betingkah

Lesung adalah alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi lesung ini memisahkan kulit gabah (sekam) dari beras menjadi mekanik. Lesung sendiri sebenarnya hanya wadah cekung, biasanya dari kayu besar yang dibuang bagian dalamnya. Padi yang akan diolah ditaruh di dalam lubang tersebut, padi lalu ditumbuk dengan alu, tongkat tebal dari kayu, berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekam. 

Lesung pada umumnya terbuat dari kayu dan berbentuk seperti perahu, tapi beda halnya dengan lesung yang terdapat di Dusun Aur Gading Kelurahan Lubuk Kambing Kecamatan Renah Mendaluh Kabupaten Tanjung Jabung Barat. berdasarkan keterangan Abdul Latif, Lesung padi yang terdapat di dusun ini berbentuk seperti kapal kecil dengan tatanan di bawahnya dan dibuat bertingkat menjadi dua.

Lesung pada dusun ini sengaja dibuat bertingkat menjadi dua, guna agar ketika menumbuk padi hasil pukulan tumbukan terdengar lebih lantang atau keras. Untuk menumbuk padi pada umumnya masyarakat mengenalnya dengan alu, sedangkan di Dusun Aur Gading ini penumbuknya lebih dikenal dengan Antan.

Lesung dan Antan pada Lesung Betingkah di dusun Aur Gading ini menggunakan kayu yang berbeda, Abdul Latif mengatakan untuk lesungnya sendiri menggunakan kayu yang lembut, menurut tokoh adat jenis kayu yang digunakan untuk membuat lesung yaitu kayu lempung (lembut) seperti kayu bayur, kayu meranti, kayu Terentang. Sedangkan jenis kayu yang digunakan untuk pembuatan antan yaitu kayu yang keras seperti kayu kepinis, kayu pulim, kayu bulian. Maksud dan tujuan menggunakan kayu yang berbeda ketika menumbuk padi, lesung dan padi yang ditumbuk tidak hancur. Ketika ditumbuk antara antan dan lesung yang menggunakan kayu yang keras maka lesung akan bertumbukan secara kuat dan akan hancur.

Sebelum menumbuk padi, masyarakat dusun Aur Gading ini mengkisar (memutar) padi menjadi pepal terlebih dahulu menggunakan kisaran yang terbuat dari kayu dan bambu, fungsi kisaran ini sendiri untuk memisahkan padi dari kulitnya, Proses ini biasanya berlangsung dua sampai tiga kali. (*)

Baca juga: WIKI TRIBUN Semenjak Covid-19 Pengunjung Tanggo Rajo Sepi, Pendapatan Pedagang Menurun

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved