Breaking News:

Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Indonesia Diprediksi Bangkit Tahun Depan. Morgan Stanley: Ada Tiga Pendorongnya

Morgan Stanley dalam riset terbarunya memprediksi ekonomi Indonesia akan bangkit tahun depan. Morgan Stanley memperkirakan ekonomi Indonesia

Editor: Fifi Suryani
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Kapal tunda memandu masuknya sebuah kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Agustus lalu. Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 lalu, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus 200 juta dolar AS dengan nilai ekspor sebesar 11,78 miliar dolar AS, sementara impor mencapai 11,58 miliar dolar AS. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Morgan Stanley dalam riset terbarunya memprediksi ekonomi Indonesia akan bangkit tahun depan.
Morgan Stanley memperkirakan ekonomi Indonesia tahun 2022 akan tumbuh 5,5 persen. Sementara tahun ini diperkirakan tumbuh 3,6 persen.

Morgan Stanley menyebut tiga faktor yang membuat ekonomi Indonesia akan bullish tahun depan. Pertama, menguatnya kembali permintaan domestik. Ini seiring tingkat kenaikan vaksinasi Covid-19.

Menurut Morgan Stanley, dengan kenaikan tingkat vaksinasi sekarang akan membantu membuka momentum di sisi permintaan domestik.

Kedua, kenaikan inflasi namun kenaikan harga komoditas memberikan lindung nilai pada pasokan.

Morgan Stanley mencatat surplus perdagangan komoditas Indonesia mencapai 6,3 persen dari PDB per Agustus 2021. Dengan kata lain, setiap kenaikan 10 persen harga komoditas secara keseluruhan meningkatkan saldo transaksi berjalan sebesar 0,6 persen dari PDB.

Surplus perdagangan yang lebih signifikan terlihat pada segmen-segmen seperti minyak sawit mentah, batubara dan bijih/logam.
Morgan Stanley menganggap kenaikan surplus perdagangan komoditas ini sebagai penyediaan tabungan atau likuiditas untuk peningkatan permintaan domestik.

"Selain itu, kenaikan harga komoditas membantu menambah sumber daya fiskal, mengurangi tekanan pendanaan," tulis Morgan Stanley dalam riset yang dipublikasikan 8 November 2021 lalu.

Sampai saat itu, Morgan Stanley mencatat, penerimaan pajak pemerintah dari minyak dan gas telah meningkat 46% dan penerimaan negara bukan pajak dari sumber daya alam naik 33% yoy per September 2021.

Ketiga, Indonesia memiliki pertumbuhan struktural yang kuat di Asia.

Menurut Morgan Stanley, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan dan situasi Covid-19 kemungkinan telah mempercepat laju deglobalisasi dan meningkatkan pentingnya diversifikasi risiko bisnis/manufaktur.

Halaman
12
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved