Breaking News:

Cerita Pertempuran Pejuang Jambi Lawan Belanda di Simpang Tiga Sipin

Lebih dari 30 pesawat Belanda terbang di langit Jambi dan menurunkan pasukan terjun payung ke sejumlah daerah, mengepung pasukan Jambi.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Samsul
Simpang III Sipin yang digambarkan diorama di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Samsul Bahri

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-Lebih dari 30 pesawat Belanda terbang di langit Jambi dan menurunkan pasukan terjun payung ke sejumlah daerah. Pasukan-pasukan ini diturunkan untuk mengepung wilayah Jambi.

Inilah yang ada diingatan dari Asrie Rasyid (93) satu diantara pejuang veteran Jambi. Peristiwa tersebut terjadi pasa 29 Desember 1948 silam. Pada saat itu, Asrie merupakan Staf Resimen Divisi 2 di bawah pimpinan Kolonel Abunjani.

Asrie menyebut bahwa Belanda datang dengan pasukan yang cukup besar ke Jambi karena Belanda menganggap bahwa Jambi adalah daerah kuat. Karena Jambi pernah membantu senjata-senjata ke daerah-daerah lain. Termasuk dengan memasok logistik ke daerah lain seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan juga pernah ke Bengkulu membantu senjata khusus untuk menembak pesawat. 

"Makanya mereka menyerang itu dengan kekuatan yang besar itu dari Angkatan udara dan angkatan laut. Mereka menurunkan pasukan penerjun payung," katanya.

Ia menyebut bahwa serangan Belanda ke Jambi dilakukan secara tiba-tiba sehingga tidak ada persiapaan apa pun. Daerah pertama yang diduduki oleh pasukan Belanda itu ada di lapangan terbang atau Bandara Sultan Thaha Saifudin Jambi.

"Kemudian daerah minyak, itu daerah Tempino, Bajubang dan Kenali Asam. Karena itu perusahaan minyak Belanda namanya NIAM. Mereka ingin mengamankan minyak itu, makanya turunnya di daerah itu," sebutnya.

"Mereka sudah tau strategi kita bahwa kalo kita tidak bisa mengamankan kota atau proyek yang vital harus dihanguskan. Makanya itu (daerah minyak) yang jadi sasaran mereka dan beberapa tempat lain," tambahnya.

Baca juga: Pejuang Berdarah Tionghoa yang Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Satria Bhakti Kota Jambi

Selain itu, pasukan Belanda juga menduduki wilayah di simpang jelutung, lebak bandung, simpang kawat menuju Tugu Juang. Kata Asrie, Belanda menempatkan pasukan di Tugu Juang untuk menghambat pemindahan tentara dan warga sipil dari Jambi ke luar kota. 

"Dulu itu dewan pertahanan daerah menetapkan Kalo militer harus menyingkir ke Bangko itu di Muara Siau karena dekat dengan palembang. Kalo warga sipil itu ke Muaro Bungo," ungkapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved