Breaking News:

Berita Tanjabtim

Saat Harga Sawit di Tanjabtim Meroket, Petani Pupus Harapan Karena Alami Trek

Harga sawit di Tanjabtim meroket, para petani malah sedih lantaran kondisi buah di tengah harga yang naik malah terjadi trek.

Tribunjambi/Abdullah Usman
Para petani sawit di Tanjab Timur mengeluh harga pupuk yang mahal. 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Saat ini harga sawit di Tanjabtim terus meroket, alih alih dapat merasakan nikmat harga tinggi para petani justru dihadapkan dengan kondisi buah yang mengalami trek.

Sejak beberapa pekan terakhir nilai tukar TBS di Kabupaten Tanjabtim juga mengalami tren membaik, sama halnya dengan daerah lain penghasil kelapa sawit.

Namun tren membaik tersebut belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh para petani sawit, pasalnya di harga jual buah sawit yang kini tembus di angka Rp 2.965 tersebut para petani dihadapkan dengan kenyataan pahit akan krisis buah.

Dikatakan Ihsan (29) satu dari petani sawit yang berada di Desa Lambur II Kecamatan Muara Sabak Timur, sejak beberapa pekan terakhir bahkan hampir satu bulan ini pergerakan nilai jual buah sawit cukup mengalami tren membaik.

"Kalo soal nilai jual sekarang ini memang lagi baik baiknya, hanya saja persoalan pasokan buah yang menjadi kendala petani sekarang," ujarnya, Minggu (7/11/2021).

Menurutnya, dengan kondisi nilai jual TBS yang cukup baik saat ini, jika didukung dengan hasil buah yang maksimal tentu para petani sawit dapat merasakan kesejahteraan lebih dari kebaikan harga sawit saat ini.

"Sekarang saja di kawasan Lambur harga TBS tertinggi tembus Rp 2.965 per kilo, jika semua kebun sawit botani ini pertama pohonnya menghasilkan buah yang maksimal tentu akan berdampak positif lagi bagi petani," sebutnya.

"Namun kenyataannya sekarang beda, buah sedang mengalami trek yang sangat parah dari sebelum sebelumnya, " tambahnya.

Saat ini harga memang terbilang tinggi, namun nilai susutnya juga cukup tinggi pula. Hampir separo penyusutan buah terjadi saat ini.

"Kalo biasanya para petani sekali panen bisa mendapatkan maksimal 3 ton, sekarang susut jauh menjadi 1,5 ton saja maksimalnya. Susutnya jauh sekali mas, " keluhnya.

Lanjutnya, biasanya ada yang panen bisa mencapai Satu ton sekarang hanya paling full Empat pikul saja. Permasalahan petani saat ini bukan soal rugi atau tekor biaya panennya, melainkan sedikitnya hasil buah yang dapat dipanen sedangkan harga saat ini sangat baik.

"Harga memang tinggi, tetapi buah sawit semakin habis. Yang kasihan itu bagian tukang panen dan timbang karena setiap panen buahnya sedikit (jadi lesu), " sambungnya.

Dirinya juga tidak mengetahui pasti apa penyebab buah sawit mengalami trek yang cukup jauh saat ini. Namun sebagian besar karena persoalan kurang perawatan saja.

"Kebanyakan kebun sawit kurang perawatan dan pupuk, jadi ketika harga jual melejit tinggi hasil kebun tidak maksimal kurang perawatan bahkan trek seperti saat ini, " pungkasnya.

Baca juga: Ditreskrimum Polda Jambi Kejar 6 DPO Pengeroyokan Satpam Perusahaan Sawit di Tanjabtim

Baca juga: Dampak Harga Sawit Naik, Petani di Batanghari Borong Kendaraan Hingga Membangun Rumah

Baca juga: Petani di Batanghari Kaya Mendadak Setelah Harga Kelapa Sawit Mulai Bergairah

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved