Breaking News:

Berita Tanjabbar

PT Pelita Sari di Tanjabbar Diduga Langgar Perjanjian Larangan Produksi Gunakan Batu Bara

PT Pelita Sari atau Gudang Alo di Tanjabbar diduga melanggar perjanjian penggunaan batu bara dalam proses produksi.

Tribunjambi/Danang
Batu bara yang digunakan PT Pelita Sari atau Gudang Alo untuk produksi kelapa. 

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - PT Pelita Sari atau Gudang Alo di Tanjabbar diduga melanggar perjanjian penggunaan batu bara dalam proses produksi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua RT 10 Kelurahan Tungkal Harapan, Zulfahmi pada Selasa (2/11/2021).

Ia mengatakan bahwa warga sempat menolak aktivitas produksi pabrik menggunakan bahan bakar batu bara secara berlebihan.

Hal itu kata Zulfahmi, berdasarkan surat persetujuan masyarakat yang dibuat satu tahun yang lalu. Namun kini pihak perusahaan kembali menggunakan batu bara.

Zulfahmi menjelaskan, pernyataan tersebut berisikan larangan kendaraan memuat batu bara yang secara berlebihan.

Karena penumpukan stokpile batu bara tersebut mempengaruhi keadaan sekitar dari debu gunungan batu bara di areal PT Pelita Sari.

"Kalau kemarin banyak lagi batu baranya menumpuk apalagi kena angin debunya kemana-mana, makanya masyarakat menolak penumpukan itu, dan tiga bulan terakhir mereka menggunakan batu bara lagi dan dampaknya mencemari udara sekitar," tuturnya.

Ia melanjutkan masyarakat meminta perusahaan berhenti menggunakan batu bara untuk produksi, bisa menggunakan bahan lain yang lebih ramah lingkungan.

"Kami minta kalau bisa pabrik ini beroperasi jangan menggunakan bahan batu bara, sebenarnya lebih baik kayu saja, karena lebih ramah lingkungan. Kami mempersilahkan produksi, asalkan jangan mengganggu lingkungan sekitar," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan bahwa Warga RT 10 Kelurahan Tungkal Harapan, Kecamatan Tungkal Ilir, Tanjab Barat merasa terganggu dengan aktivitas PT Pelita Sari atau Gudang Alo yang diduga mencemari lingkungan saat melakukan pengolahan kelapa dalam dengan menggunakan bahan bakar Batu Bara.

Sejumlah warga mengeluh karena pembakaran kelapa dalam tersebut menggunakan batu bara yang menyebabkan bau asap menyengat dan sangat mengganggu.

"Baunya nyengat, biasanya pembakaran pagi jam 6, sekitar selama 1 jam lebih lah," ujar salah seorang warga, Selasa (2/10/2021).

Salah seorang warga lainnya, Budi juga mengeluhkan dampak dari asap pabrik pembuatan kelapa di gudang Alo. "Asapnya hitam. Baunya ampun," katanya.

Budi menyebutkan Gudang tersebut sempat berhenti menggunakan batu bara dalam pembakaran karena sempat diprotes masyarakat. Namun, tiga bulan terakhir Gudang Alo kembali menggunakan batu bara.

"Dulu sempat di protes masyarakat, dan masyarakat mengumpulkan tanda tangan dan waktu itu sempat berhenti tidak lagi gunakan batu bara," pungkasnya.

Baca juga: Warga Tanjabbar Keluhkan Pengolahan Kelapa di Gudang Alo Pakai Batu Bara, Asap Cemari Lingkungan

Baca juga: Preman Peras Sopir Truk Batu Bara di Talang Bakung, Beraksi Pakai Parang Dini Hari Diringkus Polisi

Baca juga: Truk Batu Bara Hantam Tronton di Simpang Rimbo, Satu Sopir Dilarikan ke Rumah Sakit

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved