Breaking News:

Berita Jambi

Kualitas Air Sungai Batanghari di 50 Poin, DLH Provinsi Jambi Sebut Angka Ini Terus Turun

Berita Jambi-DLH Provinsi Jambi rutin mengukur kualitas air dari Sungai Batanghari yang ada di Jambi. Dari hasil pengukuran yang dilakukan..

Penulis: Monang Widyoko | Editor: Nani Rachmaini
MONANG/TRIBUNJAMBI.COM
Kualitas Air Sungai Batanghari Berada di 50 Poin, DLH Provinsi Jambi Sebut Angka ini Terus Turun Tiap Tahunnya 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - DLH Provinsi Jambi rutin mengukur kualitas air dari Sungai Batanghari yang ada di Jambi. Dari hasil pengukuran yang dilakukan, air sungai terpanjang di Sumatera itu berada di 50 poin.

"Angka ini terus menurun dari tahun ke tahun. Sebelumnya di 2018 itu poin indeks kualitas air Batanghari kita berada di 67,5 poin. Kemudian 2020 kemarin 51,6 poin. 2021 ini baru keluar hasilnya dan menurun lagi, 50 poin," papar Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Provinsi Jambi, Asnelly Ridha.

Nelly berujar, poin tersebut diketahui melalui pemantauan dan pengukuran sederhana yang rutin dilakukan DLH Provinsi Jambi.

"Ini dilakukan dengan 2 tahap dalam setahun. Tahap pertama di musim kemarau, ketika air sungai dangkal. Tahap kedua, dilakukan pada musim hujan. Hasilnya, bakal digabungkan dan dihitung kembali, sehingga muncul indeks kualitas air," jelasnya.

Lokasi pengambilan sampel air, berada di perbatasan antar kabupaten, meliputi Kerinci, Merangin, Sarolangun, Bungo, dan Tebo. Lebih rinci, ia mengatakan ada 12 titik air sungai Batanghari yang rutin di uji.

Yakni ada di Desa Sanggaran, Muara Emat, Pulau Pandan, Batu Kucing, Sarolangun Kembang, Tanjung Gedang, Muaro Kuamang, Mangun Jayo, Teluk Singkawang, Tua peninjauan, Pasar Muara Tembesi, dan Kelurahan Pasar Bangko.

Terus turun angka kualitas dari Sungai Batanghari ini, menurut Nelly disebabkan oleh limbah domestik. Yang mana dari hasil uji sampel ditemukan kandungan sampah.

"Ini menunjukan, seolah Sungai Batanghari itu dianggap jadi tempat sampah," tambahnya.

Dijelaskannya, air sungai itu tidak dapat dikonsumsi. Kalau pun terpaksa, ia mengatakan harus ada proses penjernihan sistematis.

"Sungai ini masuk kualitas dua, yakni untuk pertanian. Kalau untuk air minum, tidak bisa langsung, tapi perlu treatment," ujar Nelly.

Pengukuran yang dilakukan DLH Provinsi Jambi memang terbilang sederhana.

Tidak lebih mendalam, sehingga kandungan merkuri atau limbah industri tidak terdeteksi karena terbatasnya anggaran. (*)

Baca juga: Sudah 10 Tahun Warga Sungai Duren Bermukim di Bibir Sungai Batanghari Terancam Abrasi

Baca juga: Kemarau Berakhir Oktober, BPBD Jambi Ingatkan Warga Sekitar Sungai Batanghari untuk Waspada

Baca juga: Sering Longsor, Warga Pulau Kayu Aro Cemas Rumahnya akan Roboh Karena Abrasi Sungai Batanghari

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved