Breaking News:

Berita Jambi

Perlu solidaritas Memahami Kebutuhan Teman Tuli atau Disabilitas Mengakses Perguruan Tinggi

Berita Jambi-Hal ini juga menjadi perhatian dari Fiqi Nurmanda Sari, Sekretaris Pusat Kajian Disabilitas UIN Jambi yang disampaikan dalam diskusi

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Nani Rachmaini
Istimewa
Diskusi virtual perlunya solidaritas memahami kebutuhan teman tuli atau disabilitas untuk akses pendidikan di perguruan tinggi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-Kesulitan untuk mendapatkan akses dan informasi pendidikan tinggi bagi teman-teman tuli menjadi hal yang dirasakan selama ini oleh teman-teman tuli.

Hal ini juga menjadi perhatian dari Fiqi Nurmanda Sari, Sekretaris Pusat Kajian Disabilitas UIN Jambi yang disampaikan dalam diskusi virtual dengan tema "Membangun solidaritas untuk teman tuli".

Fiqi menyebut bahwa pernah menemui kesulitan dari wali mahasiswa yang ingin mendaftarkan anaknya ke Perguruan Tinggi.

Hal ini menjadi kesadaran bersama sebetulnya untuk bagaimana perlu menyadari solidaritas terhadap kebutuhan teman-teman tuli.

"Kemarin ada salah satu calon mahasiswa yang daftar ke UIN dan memang orang tuanya binggung terhadap informasi, apalagi anaknya disabilitas. Jadi memang perlu ada informasi. Khususnya secara umum di Jambi universitas mana yang terima penyandang disabilitas," ungkapnya.

Kata Fiqi, sebetulnya untuk akses pendidikan disabilitas termasuk di dalamnya teman tuli, ada landasan yuridis yang mengatur hal tersebut. Ini untuk menumbuhkan hak yang sama untuk teman-teman tuli atau disabilitas mendapatkan akses pendidikan.

"Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi untuk teman-teman tuli sebetulnya ada landasan yuridisnya. Secara umum di dalam UUD 1945 bahwa setiap orang tanpa terkecuali memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan," katanya.

"Kemudian di Peraturan Menteri ristekdikti no 44 tahun 2015 tentang standar nasional pendidikan tinggi pasal 37 di mana perguruan tinggi harus menyediakan sarana dan prasarana yang dapat di akses mahasiswa yang berkebutuhan khusus," tambahnya.

Di sisi lain, pendidikan perguruan tinggi juga perlu memahami kebutuhan dari mahasiswa tersebut.

Karena setiap disabilitas memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, misalnya teman tuli membutuhkan teman yang bisa mencatat penjelasan dari dosen.

"Mereka (disabilitas) memilik kebutuhan psikologis, jadi dosen butuh persiapan teks baca dan relawan teman sebaya untuk teman tuli."

"Kemudian saya secara berkala juga menanyakan kepada mahasiswa tersebut apa kendala dan kebutuhan yang di perlukan," ungkapnya.

"Jadi dari segi pendidikan kita pahami kebutuhan dari teman-teman tuli atau disabilitas, sehingga tumbuh solidaritas kita terhadap teman tuli atau disabilitas," pungkasnya. (*)

Baca juga: Duta Bahasa Provinsi Jambi Ungkap Urgensi Teman Tuli Butuh Dukungan Pemerintah

Baca juga: Ketika Teman Tuli Belajar Daring, Saling Membantu Sesama Orangtua

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved