Breaking News:

Suka Duka Pelaku UMKM Tanjab Timur Bertahan di Tengah Pandemi

Pandemi yang terjadi hampir dua tahun terakhir turut berdampak pada para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Tanjab Timur.

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
istimewa
Kerupuk kletek dan kerupuk goreng hasil UMKM Tanjab Timur. 

Laporan wartawan tribunjambi.com, Abdullah Usman

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Dihantam pandemi dua tahun terakhir, para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Tanjab Timur harus memutar otak. 

Farida wanita (34) satu dari pelaku usaha UMKM asal Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjab Timur ini sudah lama menggeluti usaha kerupuk olahan rumah tangga sejak tahun 2016.

Usaha yang dijalankan sejak lama tersebut, tetap terus dapat bertahan meski sempat hampir terpuruk imbas dari himpitan keadaan akibat wabah Covid-19.

Keahlian membuat kerupuk kletek dan kerupuk goreng lainnya berbahan udang ini ia peroleh secara otodidak, sebab dulunya ia pernah melihat salah satu saudaranya membuat olahan itu akan tetapi hanya bukan untuk di jualan, melainkan hanya untuk cemilan untuk hari raya.

"Awal mulanya saya buat kerupuk ini belajar dari keluarga. Terus saya coba-coba lah buat sendiri untuk cemilan di rumah, ternyata hasilnya disukai oleh lidah orang lain," ujarnya, Minggu (10/9/2021).

Berdasarkan pengalaman tersebut, dirinya mencoba membuat kuliner olahan tadi menjadi peluang bisnis. Dengan jumlah yang cukup banyak untuk selanjutnya di pasarkan.

Akan tetapi, pasang surut usaha ini juga pernah dirasakannya. Di saat wabah Covid-19 melanda indonesia dan juga berimbas hingga Kabupaten Tanjab Timur, omset penjualan kerupuk ibu dari dua orang anak ini mengalami penurunan akibat kurang nya pesanan.

Hal itu mungkin terjadi akibat masyarakat takut untuk mengkonsumsi makanan yang bukan hasil buatan sendiri karena khawatir akan kesehatan di tengah masa pandemi Covid-19.

Baca juga: 11 Ekor Kambing Warga Tanjab Timur Jadi Korban Serangan Harimau

Baca juga: Setiap Hari Macet, Warga Talang Duku Muarojambi Mengeluh Debu Truk Batu Bara.

Baca juga: Dibudpar Jambi Akan Ubah Wajah Jembatan Pendestrian Gentala Arasy Jadi Objek Wisata

"Kalau omset jualan saya ini tidak bisa dipastikan berapa, karena tergantung pesanan. Tapi sejak heboh-hebohnya corona kemarin, terasa nian kalau jumlah orang yang beli atau pesan kerupuk saya ni jauh berkurang, mungkin sekitar 50 persen menurunnya," jelasnya 

Lanjutnya saat ini ada kendala lain yang dihadapinya, yaitu stok udang yang mulai sulit didapat dan harga udang mentah yang cukup mahal. 

Meski sang suami berprofesi sebagai nelayan udang, akan tetapi tidak serta merta membuat dirinya gampang untuk memperoleh bahan baku kerupuk buatannya itu.

Sebab, akhir-akhir ini nelayan udang di wilayah tersebut terkadang sulit untuk mendapatkan hasil tangkapan di laut. Selain itu, harga jual udang di pasaran sekitar wilayah tersebut juga mulai tinggi. 

Untuk mensiasati itu, dirinya terpaksa harus menjual kerupuk olahannya dengan harga yang cukup tinggi dari harga normal, yakni berkisar Rp 60 ribu per kilonya. (usn)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved