Militer Indonesia

Serangan Kilat Kopassus Terhadap KKB pada 1969, 3 Pemberontak Tewas Tertembak

Berikut kisah RPKAD (Kopassus) berhadapan dengan pemberontak Permesta di tahun 1969, ini kisah selengkapnya.

Editor: Heri Prihartono
ROUDHOH
RPKAD kala menghadapi KKB Papua 
TRIBUNJAMBI.COM -  Prajurit Kopassus yang dulu diberi nama  RPKAD sejak era presiden Soekarno telah diterjunkan mengatasi KKB Papua.
Di antara prajurit RPKAD legendaris yang pernah berhadapan dengan KKB adalah Sintong Panjaitan pada tahun 1969.
Sintong Pandjaitan pernah menembak mati 3 anggota kelompok kriminal bersenjata atau KKB Papua dan membiarkan mayatnya tergeletak.

Apa alasan prajurit RPKAD  melakukan hal ekstrim tersebut?

Sintong Panjaitan memiliki tujuan terselubung ingin memberikan shock therapy kepada anggota KKB yang lain.

Melansir dari buku 'Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' karya Hendro Subroto, kronologinya berawal pada tanggal 13 Maret 1969.
Saat itu banyak  warga Papua yang lari masuk hutan untuk bergabung dengan KKB Papua.

Sintong Panjaitan dan prajurit RPKAD lainnya mendapat perintah untuk mencegah kian banyaknya masyarakat yang bergabung dengan KKB.

Warga Papua masuk ke hutan akibat hasutan dari KKB Papua sebagai langkah untuk menggagalkan Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera.

Pencegahan dilakukan dengan cara penghadangan pada jalur keluar menuju hutan.

Sintong Panjaitan menilai, kunci pencegahan harus dicari, sehingga dengan sendirinya WARGA  tidak mau masuk hutan.

Kunci pencegahan yang bisa dilakukan di antaranya berupa shock therapy.

Menurut analisis Sintong Panjaitan karena  kesulitan mendapat makanan di hutan, para warga yang lari ke hutan akan berkumpul di suatu tempat.

Sehingga mereka tetap dibiarkan lari masuk hutan.

Pada tanggal 25 Maret 1969 terdapat laporan sekitar 80 pelajar yang lari ke hutan, berkumpul di suatu tempat yang lokasinya di tepi sungai Pami.

Pada pukul 01.00 hari berikutnya, patroli Prayudha 3 dari RPKAD melakukan penyergapan dan menembak mati tiga anggota KKB Papua.

Mayat KKB dibiarkan tergeletak di tempat yang terbuka, sehingga banyak orang yang melihatnya.

Bersamaan dengan kejadian itu, Prayudha 3 menyebarkan desas-desus yang menyebutkan kalau KKB tidak menyerah, akan ditindak lebih keras lagi.

Hasil shock therapy itu, dalam waktu empat hari sebanyak 83 orang yang gabung ke KKB Papua menyerah kepada Prayudha 3.

Di antara mereka yang menyerahkan diri kepada Kodim dan polisi setempat.

Perlu diketahui aksi teror KKB Papua sudah ada sejak tahun 1964.

SUMBER ARTIKEL : SURYA.CO.ID 

Berita lainnya seputar Kopassus

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved