Petani di Kota Meratap Akibat Gagal Panen, Cuaca Semakin Sulit Ditebak
Penulis: Rara Khushshoh Azzahro | Editor: Teguh Suprayitno
TRIBUNJAMBI.COM,JAMBI - Yosima, perempuan berusia 68 tahun yang berprofesi jadi petani padi, dan jagung menceritakan nasib kebunnya saat musim hujan sudah tak menentu.
Perempuan ini menjadi petani padi sejak tahun 1980 an.
Ia yang tinggal di pinggir Sungai Batanghari, Kelurahan Penyengat Rendah, Telanaipura, Kota Jambi hanya berharap pada tanaman padi seadanya.
Tahun demi tahun ia menanam padi maupun jagung di waktu yang dapat diperkirakan.
Tidak ada hujan yang mengakibatkan terganggunya masa tanam hingga panen kebunnya.
"Karena biasanya kami bisa memperkirakan musim. Sekarang musim sulit diperkirakan," katanya.
Jika hujan kerap tiba, maka ia hanya dapat memanen padi-padi yang terendam air.
Karena kebunnya terletak di pinggir Sungai Batanghari, dan tak jarang terendam banjir.
Yang lebih tak habis pikir, padi yang belum menua pun ia panen.
Baca juga: Tinggi Air Sungai Batanghari Hampir 12 Meter, Dua Meter Lagi Legok dan Sijenjang Bisa Banjir
Baca juga: Kapolda Jambi Jajal Penerapan Scan Barcode Aplikasi PeduliLindungi di Pintu Masuk Mal di Kota Jambi
Bukan hanya padi muda dan terendam banjir pun tetap dipanen, lantaran harapannya untuk menyambung hidup.
Hasil panen padi tersebut yang tak menentu membuat ia hanya bisa berharap pada pekerjaan serabut lainnya.
"Kalau panen padi ya Alhamdulillah, kalau tidak ya seperti itulah," ungkapnya.
"Kami tidak tahu lagi bagaimana meminta pemerintah untuk tanggulangi Sungai Batanghari yang berdampak banjirnya kebun kami," kata dia.(TribunJambi/Rara Khushshoh Azzahro)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/yosima-petani-di-jambi.jpg)