Breaking News:

Jaga Gambut, Petani Perempuan Olah Lahan Tanpa Bakar untuk Keluarga Mandiri

BRGM menggerakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Mandala Jaya, Betara, Tanjung Jabung Barat, Jambi untuk lebih mandiri

Editor: Rahimin
Istimewa
Petani sedang membuat media tanam 

TRIBUNJAMBI.COM - Di balik kemajuan pertanian gambut di Tanah Air, ternyata ada kontribusi perempuan yang berperan dalam memanfaatkan lahan gambut tanpa membakar. 

Berawal dari pelatihan Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) yang digelar oleh Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. (BRGM), seorang petani perempuan bernama Monihar menggerakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Mandala Jaya, Betara, Tanjung Jabung Barat, Jambi untuk lebih mandiri dalam mendukung ketahanan pangan keluarga. 

“Dulu kan warga mengolah lahan kan gak tahu, masih dengan cara membakar, tapi ternyata tanahnya menjadi tandus. Kemudian setelah BRGM masuk memberikan pelatihan, kami pun paham cara memanfaatkan lahan gambut tanpa membakar. Kami juga diajari bagaimana mengolah pupuk organik,” ujar Monihar. 

Kader SLPG itu menyebut, pelatihan yang dilakukan oleh BRGM ternyata sangat bermanfaat dan bisa menjadi sumber ekonomi baru. 

“Sekarang saya bikin pupuk organik, alhamdulillah banyak yang pesan, terus saya ajarilah ke petani lain dan ke lingkungan sekitar, alhamdulilah mereka pun mencobanya,” ungkapnya. 

Selain memproduksi pupuk organik, Monihar juga mengajak ibu-ibu rumah tangga untuk membuat produk dari tanaman palawija, seperti mengolah jahe menjadi camilan dan juga minuman herbal.

“Kami ajari mereka cara mengolah produk tingting jahe dan empon-empon. Biasanya tingting jahe per kilogramnya kami jual Rp150 ribu. Nah, saya ambil bahannya itu dari hasil panen ibu-ibu yang menanamnya di pekarangan rumah mereka atau dari petani lokal, lalu baru kita olah,” pungkasnya.

Di momen Hari Tani Nasional ini, Monihar pun mengajak seluruh petani untuk terus berjibaku menjaga lahan gambut tanpa membakarnya. 

“Saya pesan kepada para petani, khususnya petani wanita agar tidak membakar lahan lagi, karena akan merusak tanahnya, kalau ditanami juga gak bagus, itu saya rasakan sendiri.  Selain itu, namanya kita perempuan jangan mengandalkan suami, biarpun ga punya lahan luas, pekarangan pun bisa diolah dan ditanami untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” imbau Monihar yang memotivasi para wanita agar lebih mandiri. 

Pihaknya juga berharap, BRGM terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan dengan pendampingan pengolahan produk dari hasil panen hingga proses pemasaran, sehingga kelak, ibu-ibu rumah tangga pun bisa mempunyai usaha sendiri.

Baca juga: BRGM Gencar Bangun Sumur Bor di Jambi Demi Mencegah Karhutla

Baca juga: BRGM Targetkan Restorasi Gambut 236.427 Hektare di Jambi Hingga 2024

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved