Breaking News:

Diam-diam Kapal China dan Vietnam Sering Masuki Perairan Indonesia, DPR Desak Bakamla Diperkuat

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan meminta pemerintah untuk memperkuat Badan Keamanan Laut (Bakamla) dalam berbagai aspek.

Editor: Teguh Suprayitno
TNI AL
Detik-detik Kapal Perang KRI Imam Bonjol Digertak Dua Kapal Patroli China di Natuna, Foto-fotonya. Kapal Patroli China (CGC) 3303 membayangi KRI Imam Bonjol 383 yang menggiring kapal nelayan China Han Tan Cou. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kapal China dan Vietnam kerap memasuki perairan Indonesia tanpa izin.

Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan meminta pemerintah untuk memperkuat Badan Keamanan Laut (Bakamla) dalam berbagai aspek untuk mencegah hal itu terus terjadi.

Salah satu yang terpenting adalah sektor infrastruktur. Dengan begitu Bakamla akan mampu membaca keberadaan kapal China dan Vietnam di lautan Indonesia.

"Penguatan Bakamla tidak boleh hanya terbatas pada aspek kelembagaan semata. Namun harus nyata terlihat pada dukungan anggaran, sarana, prasarana, dan peremajaan teknologi pendukung dalam menjalankan tugasnya sebagai penanggung jawab keamanan laut," ujar Syarief seperti dilansir dari Antara, Selasa (14/9/2021). 

Menurutnya, persoalan tersebut telah menjadi tantangan klasik yang dihadapi Indonesia namun hingga sekarang belum dapat ditangani optimal.

Politikus Partai Demokrat itu juga menilai ancaman kedaulatan Indonesia dan pencurian sumber daya kelautan masih sering terjadi sehingga dibutuhkan penguatan kelembagaan maritim dalam mengamankan wilayah laut Indonesia.

"Penguatan kelembagaan maritim tersebut harus nyata terlihat, tidak hanya berhenti menjadi wacana saja. Kasus pencurian hasil laut belum tertangani dengan optimal, ini murni 'political will' pemerintah untuk serius menjaga kedaulatan dan kekayaan maritim," kata Syarief.

Ia mengatakan, tidak terdeteksinya kapal dari Vietnam dan China saat memasuki wilayah lautan Indonesia, menunjukkan teknologi militer Indonesia masih kalah maju dibandingkan negara tetangga.

"Padahal, potensi kelautan kita sungguh melimpah, data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan potensi perikanan tangkap laut Indonesia pada tahun 2020 berada pada peringkat terbesar ke-3 di dunia setelah China dan Peru. Indonesia menyumbang 8 persen dari produksi dunia," ujarnya.

Baca juga: Ada Bahaya dari Iklan Kecantikan di China, Pemerintah Diminta Tegas

Baca juga: Dua Akun Medsos Dipolisikan Usai Sebar Hoaks Soal Megawati

Baca juga: Latihan Militer China Turut Hadirkan Rudal Perusak Kapal Induk, Kapal Asing Dilarang Masuki Zona Ini

Indonesia kehilangan potensi pendapatan yang fantastis setiap tahunnya. Misalnya, data Indonesian Justice Intiative (IOJI) mengestimasi kerugian Indonesia dari praktik illegal fishing sebesar USD 4 miliar atau setara Rp56,13 triliun setiap tahun.

Apabila, lanjut dia, pemerintah mampu mengoptimalkan sumber daya kelautan yang melimpah tersebut, maka Indonesia tidak perlu banyak berutang.

"Padahal langkahnya tidak rumit, yaitu memperkuat pengelolaan dan penjagaan kawasan maritim. Bakamla harus diberikan dukungan yang optimal untuk mampu menjaga sumber daya kelautan dari penjarahan oleh pihak asing atau berbagai praktik ilegal lainnya," kata dia.

Kapal Perusak Nanning milik China yang baru bergabung dengan armada perangnya
Kapal Perusak Nanning milik China yang baru bergabung dengan armada perangnya (Via inf.news/)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved