Peristiwa G30SPKI

Nasib Simpatisan PKI Setelah Peristiwa G30 SPKI, Dibunuh dan Dihilangkan Paksa

Asrtikel ini membahas nasib simpatisan PKI, dan orang-orang yang dicurigai terlibat G30S setelah peristiwa G30 SPKI

Editor: Heri Prihartono
wikipedia
Peristiwa pembersihan simpatisan PKI setelah peristiwa G30S PKI 

TRIBUNJAMBI.COM -  Begini nasib simpatisan PKI setelah Gerakan 30 September atau peristiwa G30S PKI.

Sejarawan University of British Columbia (UBC), Kanada, John Roosa menjelaskan  setelah peristiwa G30S PKI,  orang-orang simpatisan PKI-yang disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan para jenderal dihilangkan.

Para impatisan PKI ditangkap, ditahan, dibunuh dan dibuang ke hutan secara paksa.

John Roosa menyebut jika  peristiwa mengikuti setelah G30S terjadi harus juga dilihat dalam rangkaian tahun 1965.

Dua peristiwa G30S PKI tersebut sebenarnya sama-sama menunjukkan kekerasan terhadap kemanusian.

Ketika peristiwa G30S PKI  pembunuhan yang menyebabkan kematian 7 perwira tinggi TNI-AD yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan revolusi dan pahlawan nasional.

Di berbagai daerah simpatisan PKI dicap sebagai dalang dari tragedi G30S/PKI.

Setelah itu peristiwa G30S PKI, terjadi pembersihan PKI dengan penahanan dan pembunuhan massal atau penghilangan hak sebagai warga negara.

"Kalau kita bicara isu 1965, ada banyak yang terjadi. Ada G30S. Ada pembunuhan massal setelah itu, ada penahanan massal, meskipun harus melihatnya dalam dua peristiwa tersendiri," ujar penulis Buku 'Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (2008)' ini dalam Dialog Sejarah, "1965: Sejarah yang Dikubur" seperti disiarkan di Channel Youtube Historia.id, Selasa (29/9/2020).

Peristiwa  kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 1965 tidaklah normal bagi mereka yang hidup saat itu, baik sebagai pelaku maupun korban.

Dia berpendapat sebenarnya untuk pembersihan PKI tidak perlu dilakukan dengan Pembunuhan atau penghilangan paksa jutaan orang yang dianggap atau dekat dengan PKI.

"Sebenarnya cukup penahanan terhadap mereka, seperti dilakukan di Jawa Barat.

Tapi yang terjadi penghilangan paksa orang yang sudah ditahan, sudah tidak berdaya lagi, diambil dari penjara atau kamp penahanan, dinaikkan ke truk, dibawa ke tempat lain yang biasanya tempat yang agak sepi di hutan, di tepi sungai, terus dibunuh di situ," paparnya.

"Ini sengaja dibuat supaya orang tidak bisa ingat, karena tidak banyak ada saksi akan penghilangan paksa itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved