Breaking News:

Kisah Syeh Arifin

Syeh Arifin, Menjadi Rujukan Masyarakat di Teluk Majelis Menentukan Waktu Ramadhan

Syeh Arifin juga menjadi ulama yang menjadi rujukan untuk penentu saat menentukan kapan tiba bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri. 

Penulis: Abdullah Usman | Editor: Rahimin
tribunjambi/abdullah usman
Masyarakat berziarah ke makam Abah Unggal. Syeh Arifin, Menjadi Rujukan Masyarakat di Teluk Majelis Menentukan Waktu Ramadhan 

TRIBUNJAMBI. COM, MUARA SABAK - Selain terkenal memiliki karomah dan pejuang melawan penjajah, Syeh Arifin ulam dari Desa Teluk Majelis, Kabupaten Tanjung Jabung, juga dikenal sebagai ulama yang menjadi rujukan untuk penentu saat menentukan kapan tiba bulan Ramadhan dan Hari Raya idul Fitri. 

Pada masa itu, Tanjung Jabung Timur masih tergabung dalam Tanjung Jabung dan belum menjadi kabupaten sendiri.

Di mana. teknologi dan informasi masih sangat susah didapatkan oleh masyarakat. 

Terlebih untuk menentukan kapan tiba waktu awal puasa di bulan Ramadhan dan juga kapan hari raya Idul Fitri.

Sehingga, pada saat itu banyak warga dari luar daerah sengaja datang berlayar ke Teluk

Setelah dirinya menimba ilmu di Palembang, Syeh Arifin mendirikan pengajian dan memiliki beberapa murid.

Satu ilmu yang diwariskan atau ditinggalkannya hingga saat ini yakni penanggalan untuk menentukan bulan Ramadhan dan awal puasa yang hingga saat ini masih digunakan warga Teluk Majelis

"Uniknya, penanggalan yang dibuat Syeh Arifin tadi setiap tahunnya selalu sama waktu kapan awal puasa dan hari raya yang tertanggal di kalender kita, " ujar Abdurrahman cucu Syeh Arifin.

Selain itu, dalam kesehariannya Syeh Arifin atau Abah Unggal, Ami Unggal ini, terkenal sangat sederhana sekilas jika orang awam melihat Abah Unggal ini sama seperti warga biasa karena kesederhanaannya. 

"Sehari-hari beliau selalu berpakaian seperti masyarakat pada umumnya, dan menggunakan topi putih yang menjadi ciri khasnya," kata Abdurrahman menceritakan.

Hanya saja, Syeh Arifin memiliki kebiasaan yang cukup unik atau mungkin memiliki makna tersendiri baginya.

Yakni, setiap Jumat ketika hendak Salat Jumat Syeh Arifin selalu berpakaian ala zaman nabi, bersorban Kepala, berjubah, dan menggunakan tongkat. 

Seragam tersebut hanya digunakannya pada saat Hari Jumat saja ketika mau ke masjid.

Namun sayang, peninggalan beliau tersebut kini sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. 

"Dari kesederhanaannya biru pula, bahkan seumur hidupnya hanya satu kali di foto (tidak mau di foto). Satu satunya foto tersebut diambil pada saat pembuatan KTP," ujarnya.

Syeh Arifin  wafat pada pada usia (70) pada tahun 1961 di Desa Teluk majelis. Awalnya dimakamkan di pinggir Sungai Batanghari.

Lantaran makamnya terancam abrasi sungai, ahirnya dipindahkan ke area yang jauh dari pinggir sungai sekitar pada 2015 lalu dan makamnya saat ini berada di makam keluarga di Desa Teluk Majelis.

Baca juga: Syeh Arifin Ulama di Desa Teluk Majelis Jambi, Dikenal Perjuangannya Melawan Belanda

Baca juga: Kisah Syeh Arifin Tokoh Agama Tersohor di Teluk Majelis Jambi, Terkenal Karomahnya

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved