Selasa, 21 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Hidup Dekat dengan Tuhan

Bacaan ayat: Mazmur 122:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN.

Editor: Suci Rahayu PK
Istimewa
Ilustrasi yesus 

Hidup Dekat dengan Tuhan

Bacaan ayat: Mazmur 122:1 (TB) Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Teokrasi adalah sistem bernegara dimana diyakini bahwa Tuhan langsung yang memimpin kehidupan bernegara.

Umat Tuhan sejak keluar dari perbudakan di Mesir, mengimani bahwa Tuhan memimpin langsung perjalanan mereka.

Kemah Pertemuan menjadi tempat dan simbol dimana kuasa Allah dinyatakan.

Empat puluh tahun perjalanan mereka menuju tanah perjanjian, diwarnai dengan berbagai tanda ajaib, selalu terhubung dengan Kemah Pertemuan.

Yang paling terkenal adalah keberadaan tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari.

Perjalanan mereka dituntun oleh Tuhan melalui awan; ketika awan bergerak maka mereka melanjutkan perjalanan dan ketika awan berhenti, mereka akan membangun kemah untuk tinggal.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Menjaga Hati dengan Pikiran yang Baik

Keberadaan Kemah Pertemuan berlanjut ketika umat Tuhan memasuki tanah Kanaan.

Ritual menyembelihan domba menjadi tanda perdamaian dilakukan secara berkelanjutan di Kemah Pertemuan.

Kemudian pada masa pemerintahan Raja Salomo, Kemah Pertemuan menjadi permanen di Yerusalem dan disebut sebagai bait Allah: Rumah Allah.

Pada masa berikutnya, Bait Allah menjadi pusat ritual peribadatan. Pemberian korban kebakaran dilakukan di Bait Allah.

Suku Lewi secara khusus dipilih untuk melayani di Bait Allah. Yerusalem pun di sebut sebagai Kota Allah karena keberadaan Bait Allah ada disana.

Setiap kali diadakan perayaan maka semua umat Tuhan akan datang berkumpul di Yerusalem, tepatnya di Bait Allah.

Datang ke Bait Allah menjadi kesempatan yang menggembirakan.

Arak-arakan dalam ziarah sambil memuji dan memuliakan nama Tuhan. Berjumpa dengan Tuhan menjadi hal yang sangat menyemangati kehidupan.

Relasi dengan Tuhan terbangun dengan baik. Apapun yang menjadi pengalaman hidup, selalu dimaknai sebagai karya Tuhan yang dinyatakan dalam kehidupan umat.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Tetap Bersyukur Meskipun Dalam Derita

Oleh Pemazmur, perjalanan ke Yerusalem menuju Rumah Allah digambarkan sebagai peristiwa yang menggembirakan.

Dalam syairnya, ia menulis, "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."

Berjumpa dengan Tuhan menjadi kesempatan yang penting, maka disambut dengan sukacita dan gembira.

Bukan hanya berjumpa dengan Tuhan dalam ibadah, umat Tuhan juga merasakan persekutuan dengan sesama.

Saling peduli dan saling menopang sebagai umat Tuhan yang besar, semakin memperkokoh kehidupan beriman mereka kepada Tuhan.

Dari masa ke masa, perjumpaan dengan Tuhan memang menjadi kesempatan yang dirindukan.

Gereja bisa jadi akan penuh sesak dengan umat yang ingin beribadah; memuji, menyembah dan mendengarkan firman-Nya.

Masihkah semangat itu ada ketika masa pandemi telah membuat hampir semua gereja kosong; andaipun diisi akan diberlakukan dengan jumlah yang terbatas. Ibadah terjadi secara virtual.

Sikap kritis muncul ketika dinyatakan: ikut ibadah atau nonton ibadah?

Sebuah pemaknaan baru perlu dilakukan. Ibadah adalah perjumpaan personal seseorang dengan Tuhan.

Maka sarana apapun bisa dipakai untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan: offline atau online.

Semangat pemazmur menginspirasi kita bahwa berjumpa dengan Tuhan adalah kesempatan yang terbaik untuk memahami makna kehidupan.

Sudah seharusnya diwarnai dengan sukacita, kegembiraan dan pengharapan. Setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk memaknai perjumpaan tersebut.

Ladang baru terbuka, yaitu ladang virtual, bahwa firman Tuhan dapat diberitakan semakin luas menembus ruang dan waktu.

Menembus tembok, sekat pemisah, lintas benua, lintas budaya bahkan lintas bahasa.

Saatnya kita memaknai ulang, agar ibadah yang kita lakukan menjadi bermakna.

Bukan sekedar sebuah ritual, namun membawa kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Amin.

Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved