Kisah Ririn Bangkit dari Sindiran Orang Sekitar
Arini Hardianti Safitri MK yang kerap disapa dengan Ririn merupakan owner Jada Moslem Wedding Organizer.
Penulis: Ade Setyawati | Editor: Teguh Suprayitno
Laporan Tribun Jambi Ade Setyawati
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Impian, semua orang memiliki impian terutama setelah menyandang gelar sarjana, ada yang memiliki impian bekerja di perusahaan besar, menjadi pegawai negeri sipil, maupun membuka usaha sendiri.
Namun apapun impiannya, harus meluangkan usaha lebih untuk dapat menggapainya seperti belajar dengan giat di bidangnya maupun usaha lain.
Namun usaha-usaha yang dilakukan tidak terlepas dari kritikan dan sindiran orang sekitar, terutama ketika melihat kita masih belum bekerja setelah lulus perguruan tinggi.
Seperi Arini Hardianti Safitri MK yang kerap disapa dengan Ririn owner Jada Moslem Wedding Organizer. a memulai usaha wedding organizer (WO) berawal dari sindiran orang sekitar.
Jada Moslem Wedding Organizer berdiri pada 25 Mei 2021 dengan akun Instagram @jada.mwedding , sudah berjalan 3 bulan.
"Awal mulanya karna dapat sindiran dari orang sekitar gini 'kamu ni jadi beban keluarga aja, tidak mulai-mulai' nah dari situlah termotifasi untuk membuat WO," jelas Ririn.
Dimana ia lulusan dari Jogja dan orang-orang berekspektasi lebih untuk lulusan luar Jambi, namun karena memang impiannya memiliki bisnis sendiri ia sama sekali tidak mencari pekerjaan.
"Selesai kuliah memang tidak cari kerja karena memang ingin buka bisnis sendiri, ingin mempekerjakan orang-orang dan membuka lapangan kerja terutama di masa sulit seperti ini," tambahnya.
Namun dari sindiran ini ia berhasil memulai Wedding Organizer, dan menerapkan ilmu yang telah ia dapatkan di Jogja selama menjadi freelance pada tahun 2019, ia belajar WO kurang lebih 2 tahun lebih.
Ia memperktekkan ilmu WO yang ia dapat di Jogja pada bulan berikutnya, meskipun klien pertama cancel karena dampak dari pandemi namun ia terus berjuang.
"Pas bulan Mei kami dapat klien, tapi harus cancel karena covid-19 lagi tinggi, untung nya ada kakak tingkat mau acara dan saya tawarin dan untungnya dia mau, itulah pelanggan pertama saya mengguanakan ilmu yang saya dapat di Jogja. Itu untuk bulan Juni dan Juli kita ada 3 acara di Bulian," lanjutnya.
Meskipun begitu, kesulitan-kesukitan memulai WO terus ia lalui, ia berusaha lebih keras, seperti mencari portofolio karena memang belum banyak yang tau WO itu apa, dan memberi edukasi seberapa berperan nya WO.
"Kesulitannya disitu sih, terutama kan orang-orang sudah terbiasa sistem kepanitiaan terutama Batanghari," ucapnya.
"Kesulitannya selain karena keterbatasan pengetahuan orang-orang tentang WO, pandemi juga berpengaruh, selain itu juga saat event pertama, orang yang di rekrut itu juga belum tau dan kami mengkaderisasi orang untuk belum faham jobdestnya, selain itu pas event juga sempat bermaslaah untuk HT, apa yang di instruksikan tidak terdengar oleh tim," tambahnya.
Meskipun begitu ia terus berbenah dengan tim awal sekitar 6 orang, ada 2 orang perempuan dan 4 orang lelaki dan sekarang ia memiliki kri sudah bertambah dengan jumlah keseluruhan sekitar 13 orang.
"Harapan saya kedepan Jadda WO bisa jadi WO terbesar se sumatera, yang tau tidak hanya masyarakat Batanghari dan Jambi tapi juga luar daerah, dan kami juga mebgjonsepkan media sosial harus ada konten setiap harinya juga harus ada edukasi dan ngasih informasi," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/ririn-owner-jada-moslem-wedding-organizer.jpg)