Nelayan di Tanjab Timur
Solar Ilegal Hilang dari Tanjabtim, Nelayan Kesulitan Cari Pasokan BBM di Penjualan Resmi
Pemberantasan peredaran minyak solar ilegal di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terus dilakukan. Sementara, ketersediaan minyak di solar packed dealer
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Suci Rahayu PK
TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Pemberantasan peredaran minyak solar ilegal di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terus dilakukan.
Sementara, ketersediaan minyak di solar packed dealer nelayan (SPDN) resmi masih belum memadai.
Dampak dari pemberantasan minyak solar ilegal atau yang lebih dikenal dengan minyak bayat, membuat nelayan harus kembali membeli minyak di agen resmi yakni SPDN Kuala Jambi.
Tapi, hal tersebut justru berdampak pada ketersediaan minyak resmi itu sendiri, yang dinilai cepat habisnya stok yang telah dialokasikan.
Satu penyebabnya karena banyak nelayan yang membeli bahkan memborong secara kelompok.

Saat ini nelayan tiga kecamatan di Tanjung Jabung Timur, yakni Nipah Panjang, Mendahara dan Kecamatan Kuala Jambi mulai kebingungan mencari stok bahan bakar solar untuk kapal-kapal mereka.
Sanusi (36) satu nelayan mengatakan, kekurangannya pasokan ini dikarenakan banyak minyak eceran solar mulai menghilang.
Pada umumnya nelayan kerap membeli minyak ilegal atau biasa disebut minyak bayat yang dijual dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan BBM solar bersubsidi dari pemerintah.
"Kalau kami nelayanni yang penting kami bisa melaut, kondisi seperti saat ini apalagi jadi tumpuan kami selain melaut," ujarnya.
Ia berharap permasalahan minyak solar ini agar segera menemukan solusi. Mengingat ketersediaan bahan bakar sangat berpengaruh dengan produktivitas perekonomian nelayan di kuala jambi ini.
Baca juga: Dua Kasus di Jambi Bukan Varian Delta Plus, Tapi Masuk Varian Lokal
Baca juga: LINK NONTON Anthony Ginting Vs Cordon di Perebutan Medali Perunggu Badminton Olimpiade 2020 Sore Ini
Pemkab Minta Pasokan Solar Ditambah
Menyikapi permasalahan bahan bakar solar di kalangan nelayan tersebut, Kabag Perekonomian Setda Tanjab Timur Awaluddin bilang, kelangkaan solar di tingkat nelayan ini bukan akibat stok dari solar paket dealer nelayan (SPDN) Kuala Jambi yang kurang.
Melainkan nelayan sudah kesulitan mencari minyak ilegal yang biasa dijual oleh oknum-oknum kapal besar, akibat penindakan tegas dengan memberantas penjual minyak ilegal membuat nelayan terpaksa memborong minyak solar yang ada di SPDN hingga stoknya cepat habis.
"Di tahun pertama beridirinya SPDN Pertamina sempat menyuplai hingga 200 kilo liter solar dalam sebulan. Tapi, realisasi pembelian dari para nelayan hanya berjumlah 80 kilo liter saja. Karena kebanyakan nelayan lebih membeli minyak bayat ilegal yang murah," ujarnya.
"Untuk itu pertamina pun melakukan revisi pengiriman BBM Solar di SPDN Kuala Jambi untuk dikurangi jumlahnya dan sisanya di alokasikan ke Kabupaten lain," sambungnya.