Breaking News:

Panas, AS Tuduh Rusia di Balik Peretasan 27 Kantor Kejaksaan Amerika

Hubungan Amerika Serikat dengan Rusia kembali memanas setelah kasus peretasann puluhan kantor kejasaan AS mencuat.

Editor: Teguh Suprayitno
Kolase/Tribunjambi.com
Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin. 

TRIBUNJAMBI.COM, WASHINGTON-Hubungan Amerika Serikat dengan Rusia kembali memanas setelah kasus peretasann puluhan kantor kejasaan AS mencuat.

Setidaknya sekitar 27 kantor kejaksaan Amerika Serikat (AS) telah diretas pada pelanggaran besar tahun lalu.

Hal itu diungkapkan oleh Departmenen Kehakiman AS.

Peretasan yang terjadi tahun lalu menyasar pada para pengguna perangkat lunak SolarWinds.

Amerika menuduh Rusia berada di balik serangan peretas tersebut.

Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai para peretas telah mengakses informasi sensitif, termasuk nama dari para informan.

“Ini potensi menjadi sangat serius,” kata mantan Jaksa Federal, Gil Soffer kepada BBC.

Ia mengatakan pesan elektronik pada jaksa berisi segala hal yang sangat sensitif dan juga sangat rahasia.

Menurut Soffer jika para peretas mendapatkan identitas para informan, mereka bisa mengungkapkan penyamaran mereka.

Selain menyerang kejaksaan, sejumlah jaringan kantor pemerintah dan swasta AS menjadi sasaran.

Baca juga: Diam-diam Kapal Tangker Singapura Kirim Minyak Ilegal ke Korea Utara, AS Bereaksi Keras

Baca juga: Jaksa Agung Belum Eksekusi Pinangki, Asrul Sani: Semangat Jiwa Korsa yang Keliru

Para penjahat siber tersebut dikabarkan mendapat akses potensial ke 18.000 jaringan komputer pemerintah dan swasta.

Mereka yang terkena peretasan termasuk 80 persen dari akun email Microsoft yang digunakan oleh karyawan di empat kantor pengacara New York yang menangani beberapa penuntutan paling menonjol di negara itu.

“Ada beberapa investigasi yang sensitif di kantor-kantor tersebut,” ujar mantan jaksa Renato Mariotti.

Ia pun menegaskan di antara investigasi tersebut, terdapat beberapa profil keuangan tingkat tinggi, yang berarti setiap informasi yang bocor dapat digunakan untuk pemerasan.

Berita ini telah tayang di Kompas.tv

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved