Breaking News:

WIKIJAMBI

Pertambangan Minyak di Bajubang Tinggalkan Jejak Bangunan Sejarah Masa Pemerintahan Hindia Belanda

Berita Batanghari-Bangunan peninggalan dari pemerintah Hindia-Belanda menjadi jejak sejarah

Penulis: A Musawira | Editor: Nani Rachmaini
Musawira/tribunjambi
Pertambangan Minyak di Bajubang Tinggalkan Jejak Bangunan Sejarah dari Masa Pemerintahan Hindia Belanda 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN-Bangunan peninggalan dari pemerintah Hindia-Belanda menjadi jejak sejarah di wilayah Kecamatan Bajubang.

Bangunan kolonial Belanda itu berdiri sejak dilakukan survei geologi dan menemukan potensi minyak bumi di sana.

Kemudian, bangsa Belanda yang bergerak pada bidang pertambangan minyak atau dikenal Nederlandsche-Indische Aardolie Maat-schappij (NIAM) melakukan ekspolarasi tambang.

Daerah Bajubang termasuk tiga lokasi pertambangan minyak terbesar di Jambi, bersama Tempino dan Kenali Asam. 

Menurut catatan arsip Belanda pada 1920 pertambangan minyak di Bajubang sudah dilakukan.

NIAM membuka pertambangan minyak melalui akses bukan lewat daerah Tempino tapi melalui Muara Bulian, jalan yang sudah ada itu malah dari Muara Bulian ke Bajubang. Tempino itu sendiri belum ada pemukiman, sejak periode 1927 Tempino ada pemukiman.

NIAM memproduksi minyak tidak langsung dibawa ke Jambi melainkan dibawa ke Plaju, Sumatra Selatan. Mereka membuat jaringan pipa. Pasar minyak dunia sangat tinggi ketika itu bersamaan ditemukan mesin pembakaran dalam Internal combustion engine.

Produksi minyak di Bajubang terbilang cukup tinggi sehingga memerlukan pekerja yang banyak, oleh karena itu ada membangun pemukiman.

Di sana telah dibangun sarana pendidikan, sarana olahraga, rumah sakit, bioskop, tempat rekreasi, hotel, gedung pertemuan, lapangan golf, lapangan tenis, kolam renang, tempat tinggal dan sarana ibadah lainya.

Mahasiswa Arkeologi Universitas Jambi yang sedang melakukan penelitian di Bajubang, Azila Indah Putri mengatakan ratusan bangunan dari kolonial Belanda itu dibangun secara bertahap dengan ciri arsitektur bangunan indis.

“Bangunan perumahan yang jumlahnya ratusan unit termasuk rumah pimpinan dibiarkan terbengkalai ditumbuhi rumput ilalang. Bangunan itu sudah menjadi objek diduga cagar budaya dan sangat mungkin bangunan itu dijadikan cagar budaya,” ujar Azila yang sedang melakukan penelitian di Bajubang, Sabtu (31/7/2021).

Akademisi Universitas Jambi, Ari Mukhti Wardoyo Adi mengatakan bangunan kolonial yang dibangun oleh Belanda ada juga dibangun pasca kemerdekaan oleh PT Permindo. Bangunan tersebut masuk ke dalam objek diduga cagar budaya.

“Semua komponen seperti lubang tambang, tempat administratur, lapangan golf, jalan dan komponen lain gereja, rumah sakit masuk ke dalam komponen kota, jika ditetapkan jadi cagar budaya maka menjadi kawasan cagar budaya,” katanya.

Diakatakan dia kota yang sudah menjadi cagar budaya seperti Sawah Lunto, Sumatra Barat, kota itu berangkat dari pertambangan batu bara, ada komponen kota dan itu ditetapkan sebagai kawasan bahkan masuk warisan dunia.

"Syukur-syukur bisa naik world heritage seperti sawah lunto jadi kebanggaan sendiri untuk Provinsi Jambi,” pungkasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved