Breaking News:

Food Estate di Tanjabbar

Sembilan Kecamatan di Tanjabbar Masuk dalam Rencana Lokasi Food Estate

Persetujuan penetapan lokasi Food Estate sampai dengan saat ini masih menunggu penetapan dari Menteri Pertanian.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Nani Rachmaini
Tribunjambi/hendro herlambang
Ilustrasi. Lahan pertanian di kawasan Desa Rendah, Kecamatan Tebo Ilir, Tebo. 

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL-Persetujuan penetapan lokasi Food Estate sampai dengan saat ini masih menunggu penetapan dari Menteri Pertanian. Sementara untuk pihak kabupaten hanya men-support kelengkapan data teknis.

Hal inilah yang disampaikan oleh Mulyadi, Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam di Bappeda Tanjabbar. Ia menyebutkan bahwa sampai dengan saat ini rencana food estate itu belum ditetapkan.

Pihaknya saat ini baru melakukan proses kelengkapan data teknis untuk mendukung pemenuhan syarat suatu kawasan untuk ditetapkan menjadi area/kawasan food estate.

"Data yang kita proses ini kita sampaikan ke dinas TPHP provinsi yang kemudian untuk diusulkan kepada menteri pertanian," sebutnya.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa pihaknya akan mengajukan komoditas utama berupa padi dalam pelaksanaan food estate. Setidakanya ada tiga Wilayah di Kabupaten Tanjabbar yang di rencanakan menjadi wilayah food estate.

"Usulan kito yang datanya sudah hampir lengkap itu untuk padi sebagai pproduk utama. Itu ada di tiga tempat, kluster I di Batang Asam, dan kluster II di Pengabuan dan Senyerang,"ucapnya.

Katanya untuk kluster I yaitu wilayah Batang Asam ada sekitar 1.067 Hektare lahan yang di persiapkan. Sementara untuk Kluster II di Pengabuan dan Senyerang luas wilayah yang disiapkan sekitar 5.601 Hektare. Sementara itu, dalam pelaksanaan food estate nantinya dipastikan akan melibatkan petani di Tanjabbar.

"karena food estate ini sesuai aturannya tidak membangun kawasan baru tapi mengintegrasikan sektor-sektor yang ada dalam kawasan yang ditetapkan menjadi terkoneksi penanganan secara simultan, dan sudah barang tentu petani menjadi pelaku utamanya," ungkapnya.

Ia menyebut bahwa ada banyak OPD yang terlibat dalam proses food estate ini. Bahkan pihaknya juga bersama dengan OPD DTPH, DKP, Perikanan, Disbunak dan PU, telah melakukan rapat untuk penyaman persepsi dan mengkalkulasi sektor yang mungkin di usulkan menjadi produk utama food estate.

"Selain pada ada Komoditi Jagung dan Kopi yang kita ajukan. Untuk jagung itu ada di wilayah di Tebing Tinggi, Senyerang, Merlung, Muara Papalik dan Ranah mendaluh dengan luas 400 hektare," terangnya.

"Untuk Kopi ada di Bram Itam dan Betara dengan luasan 1.819 hektare. Sementara untuk komiditi pendukung berupa Sapi, Kambing, Kelapa, Pinang, dan budidaya perikanan," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved