Breaking News:

Penduduk Miskin Bertambah 5,8 Ribu, Jambi di Urutan ke-6

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi pada Maret 2021 sebanyak 293,86 ribu orang. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin

Penulis: Vira Ramadhani | Editor: Fifi Suryani
Tribunjambi/Samsul Bahri
Ilustrasi kemiskinan. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Jumlah penduduk miskin di Provinsi Jambi pada Maret 2021 sebanyak 293,86 ribu orang. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada September 2020, terjadi penambahan jumlah penduduk miskin sebanyak 5,8 ribu orang.

Kepala BPS Provinsi Jambi, Wahyudin menyampaikan, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Provinsi Jambi pada bulan Maret 2021 mencapai 293,86 ribu orang (8,09 persen), bertambah sebanyak 5,8 ribu orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2020 yang sebesar 288,10 ribu orang (7,97 persen).

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2020 sebesar 11,22 persen naik menjadi 11,52 persen pada Maret 2021,” ujarnya melalui meeting zoom, Kamis (15/7).

“Sedangkan persentase penduduk miskin di daerah pedesaan pada September 2020 sebesar 6,40 persen naik menjadi 6,42 persen pada Maret 2021,” tambahnya.

Selama periode September 2020-Maret 2021, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 4,6 ribu orang dari 132,6 ribu orang pada September 2020 menjadi 137,24 ribu orang pada Maret 2021.

Sedangkan di daerah pedesaan naik sebanyak 1,1 ribu orang yaitu dari 155,5 ribu orang pada September 2020 menjadi 156,61 ribu orang pada Maret 2021.

Lanjutnya, persentase penduduk miskin di Sumatera terbesar berada di Provinsi Aceh yaitu sebesar 15,33 persen, sementara persentase penduduk miskin terendah berada di Provinsi Bangka Belitung yaitu sebesar 4,90 persen.

“Provinsi Jambi di urutan ke enam yaitu 8,09 persen,” ucapnya.

Dari sisi jumlah, sebagian besar penduduk miskin berada di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Lampung, sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Provinsi Bangka Belitung.

Dikatakannya, peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan) baik untuk di perkotaan maupun perdesaan.

“Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan di perkotaan pada Maret 2021 tercatat 74,9 persen, sementara di perdesaan jauh lebih tinggi yang mencapai 76,94 persen,” ucapnya.

Lalu, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras, rokok kretek filter, cabe merah, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, gula pasir, dan bawang merah.

“Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi,” katanya.

Wahyudin menambahkan, pada periode September 2020-Maret 2021, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan peningkatan.

“Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung semakin menjauhi Garis Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin menyebar,” pungkasnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved