Breaking News:

Penjual Obat Oseltamivir Ditangkap, Harganya Rp 8,4 Juta

Berharap meraup untung, dua penjual obat Oseltamivir ini justru buntung. Mereka menjual Oseltamivir di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapk

Editor: Deddy Rachmawan
Warta Kota/Budi Malau
Kabid Humas Polda Metro Kombes Yusri Yunus dan Dirreskrimum Polda Metro konpers pengungkapan penjualan obat penanganan Covid-19 secara ilegal di Mapolda Metro Jaya, Jumat (9/7/2021). 

TRIBUNJAMBI.COM – Berharap meraup untung, dua penjual obat Oseltamivir ini justru buntung. Mereka menjual Oseltamivir di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kemenkes.

Tidak tanggung-tanggung mereka menjual hingga empat kali lipat.

Mereka menual obat Oseltamivir yang disebut-sebut untuk obat COvid-19 di media sosial. Aktivitas itu diketahui oleh polisi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan dua pelaku yang dibekuk adalah N dan MPP.

Satu boks obat Oseltamivir berisi 100 tablet yang dikemas dalam 10 kotak, dijual sekitar Rp 8,4 Juta. Asal tahu saja, Kemenkes menetapkan HET obat Oseltamivir seharga Rp 2,6 Juta atau Rp 26.500 per tablet.

"Jadi sampai ke masyarakat mereka menjual Oseltamivir ini seharga sekitar Rp 8,4 Juta atau empat kali lipat lebih mahal dari HET yang ditetapkan Kemenkes," kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jumat (9/7).

Disampaikan Yusri, bahwa MPP membeli Oseltamivir dari N sudah dengan harga dua kali lipat. MPP menjualnya lewat media sosial seharga 4 kali lipat dari HET.

"Mereka ini mengambil kesempatan dan keuntungan lebih, memanfaatkan situasi pandemi saat ini. Saya imbau ke lainnya, janganlah menari-nari diatas penderitaan orang lain," kata Yusri.

Baca juga: Dokter Penyakit Menular Tegaskan Susu Beruang Bukan Obat Covid-19 : Itu Cuma Protein

Baca juga: Obat Ivermectin yang Disebut Susi Pudjiastuti Bantu Penyembuhan Covid-19 Teryata Jenis Obat Cacing

Yusri menerangkan apa yang dilakukan keduanya juga ilegal karena menjual obat keras tanpa izin yang ada.

Ia bilang Oseltamivir merupakan obat keras yang untuk membelinya harus menggunakan resep dokter.

“Untuk bisa menjual obat dengan resep dokter maka diperlukan yang namanya izin STRTTK atau Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian atau dia apoteker," kata Yusri. Padahal dua tersangka ini tidak memiliki izin itu.

Baca juga: 22 Warga Desa Bukit Mas Muarojambi Positif Covid-19, Dinkes Tunggu Hasil Tes PCR 116 Warga Lainnya

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan atas perbuatan keduanya yang memborong Oseltamivir dengan jumlah banyak sehingga keberadaan obat tersebut langka di pasaran.

Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com dengan judul Polda Metro Bekuk Dua Pelaku yang Menjual Obat Oseltamivir di Medsos Empat Kali Lipat dari HET, 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved