Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Firman Allah yang Menjadi Manusia
Bacaan ayat: Yohanes 1:1, 14 (TB) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah
Firman Allah yang Menjadi Manusia
Bacaan ayat: Yohanes 1:1, 14 (TB) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Di sepanjang sejarah, sejak kemunculannya 2000 tahun lampau, iman Kristen selalu berhadapan dengan berbagai tuduhan dan kesalahpahaman tentang identitas diri Yesus Kristus yang diimani sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Tuduhan dan kesalahpahaman tersebut sudah ada sejak kehidupan Yesus semasa masih hidup dan melayani, mengajar dan memberikan kepedulian pada banyak orang.
Seorang yang lahir sebagai orang Yahudi, pada masa itu akan mewarisi iman orang Yahudi yang berakar kuat dalam sejarah.
Catatan panjang sejarah kehidupan mereka berabad-abad lampau tersimpan rapi dan diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Setiap anak Yahudi akan tahu siapa leluhurnya, sejarahnya, karya Allah yang hadir dalam sejarah tersebut; karena sejak dari dilahirkan tanda sebagai orang Yahudi telah disematkan melalui sunat.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Aku Menyebut Kamu Sahabat
Harapan besar akan hadirnya Sang Penebus, Mesias, seorang yang diurapi oleh Allah; menjadi pengharapan yang tersemat dalam setiap pokok ajaran.
Nubuat menjadi sentral pengharapan tersebut.
Nubuat menjadi pegangan dan patokan tentang siapa yang akan dinyatakan sebagai penggenapan mesianik.
Telah muncul banyak orang yang menyatakan diri sebagai Mesias yang dijanjikan, sampai akhirnya terbukti bahwa mereka adalah Mesias-mesias palsu.
Yesus hadir dan berkarya dalam konteks pengharapan tersebut. Ia tampil sebagai manusia seutuhnya yang peduli kepada sesama.
Banyak mujizat dilakukan. Pengajaran-Nya seringkali membongkar praktik bobrok para agamawan yang berkedok rohaniwan namun menyimpan agenda kepentingan pribadi demi ketenaran dan kekayaan.
Praktek ritual ibadah dengan berbagai aturan yang ketat, tiba-tiba didobrak oleh pengajaran Yesus yang memberi makna ulang, bahkan membuat makna baru.
Para cerdik pandai kaum agamawan tidak mampu membantah. Mereka pergi meninggalkan Yesus setiap kali tidak mampu memberikan jawaban.
Kondisi ini membuat para pemangku jabatan keagamaan gerah. Semakin hari semakin banyak orang datang dan mendengarkan ajaran Yesus.
Mereka mendapat penghiburan, kelepasan dan disuguhi bukti-bukti kuat bahwa Yesus berbeda dari semua pengajar yang lain. Ia mengajar penuh dengan kuasa.
Berkali-kali perangkap dipasang untuk menjebak Yesus demi memperoleh kesalahan, dengan harapan dapat menyingkirkan-Nya dari hadapan publik.
Tuduhan sebagai penyesat, menghujat Allah, menjadi tuduhan yang serius.
Menarik jika Yesus tidak disukai bukan karena melakukan kejahatan, namun karena perbuatan baik dan pengajaran-Nya tentang kasih kepada banyak orang.
Jemaat mula-mula yang bertumbuh dan bertambah pada abad pertamapun harus berhadapan dengan tuduhan yang sama.
Pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, menjadi faktor kuat bahwa jemaat mula-mula harus berhadapan dengan aniaya dan penderitaan.
Jika tiga Injil lain yaitu Matius, Markus dan Lukas menampilkan Yesus sebagai sosok yang sangat manusiawi, agak berbeda dengan Yohanes yang menampilkan sisi ke-Ilahi-an Yesus.
Yohanes sebagai murid langsung dari Yesus, yang menyertai perjalanan Yesus, bahkan disebut sebagai murid yang dikasihi Yesus; memasuki usia senja didorong muridnya untuk menulis tentang Yesus dalam rangka melawan ajaran sesat yang berkembang.
Yohanes, murid yang dikasihi Yesus, dalam ilham Allah melalui karya Roh Kudus mengawali tulisannya demikian: 'Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.'
Pernyataan awal ini menjadi dasar untuk menemukan dan memahami siapa identitas diri Yesus yang sebenarnya.
Sangat mudah jika menyebut Dia sebagai nabi dari Galilea, karena Ia memang mengajar dan memulai pengajaran-Nya dari Galilea.
Gampang menyatakan Dia sebagai utusan, karena ajaran-ajaran-Nya memang sangat menarik perhatian dan mengajarkan kebenaran.
Hanya Allah sumber kebenaran, maka wajar Dia diakui sebagai utusan Allah.
Kebingungan muncul ketika Dia melakukan banyak hal ajaib yang hanya bisa dilakukan oleh Allah.
Ia mengampuni, menyembuhkan orang sakit, bahkan orang sakit sejak dalam dilahirkan. Beberapa kali Ia membangkitkan orang mati.
Pada satu sisi Dia diakui sebagai manusia namun disisi lain, ada wibawa Ilahi dalam diri-Nya. Terdapat otoritas Ilahi setiap kali Ia berkata, 'Tetapi Aku berkata kepadamu... '. Tidak sekalipun Ia menyatakan, 'Firman Tuhan datang kepadaku..'. Tidak juga Ia mengatakan, 'Demikian Firman Tuhan...'.
Terhadap kebingungan itulah Yohanes menulis bahwa 'Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.'
Sebuah pernyataan yang paralel dengan Kitab Kejadian tentang siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Jawabannya adalah Allah.
Allah dalam Firman-Nya telah menciptakan langit dan bumi. Firman Allah itulah yang pada masa kemudian, masuk dalam ruang dan waktu sejarah menjadi manusia dalam Yesus Kristus.
Fakta ini cukup menjawab secara sederhana tentang identitas diri Yesus.
Dia adalah Allah seutuhnya dan manusia sepenuhnya. Dalam kemahakuasaan-Nya, Allah ketika menjadi manusia tidak pernah kehilangan jati diri sebagai Allah.
Ketika menjadi manusia maka Ia tunduk pada hukum ruang dan waktu, namun tidak pernah sekalipun kehilangan kuasa sebagai Allah.
Ia memilih mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dalam rangka penebusan.
Maka menjadi wajar, sekali waktu Yesus terlihat sebagai manusia dan pada lain waktu dalam catatan Injil terlihat sebagai seorang yang memiliki otoritas Ilahi.
Pengenalan akan identitas diri Yesus Kristus, membuat orang percaya dalam catatan sejarah memutuskan untuk tetap setia meskipun berhadapan dengan ancaman kematian.
Penderitaan bukanlah hal yang menakutkan karena kenal kepada siapa telah mempercayakan diri.
Segala tuduhan dapat dijawab berdasarkan catatan Alkitab. Kesalahpahaman dapat diklarifikasi melalui pembacaan Alkitab secara utuh.
Meskipun demikian, tidak mudah untuk memutuskan untuk percaya.
Akan tetap ada pihak yang terus mencoba merongrong iman dengan berbagai tuduhan yang tidak berdasar.
Tetaplah kokoh setia dan kokoh dalam iman. Derita tidak boleh meruntuhkan iman, sebaliknya memperkokoh untuk semakin bertumbuh dalam pengenalan dari hari ke hari.
Pengenalan akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, seharusnya cukup membuat kita tidak kuatir dalam menjalani kehidupan.
Dia akan menolongmu.
Amin.
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/18112020_yesua.jpg)