Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - 'Aku Menyebut Kamu Sahabat'
Bacaan ayat: Yohanes 15:15 (TB) Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut
"Aku menyebut kamu sahabat"
Bacaan ayat: Yohanes 15:15 (TB) Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Kata sahabat memiliki pemahaman yang lebih dekat dari kata kawan atau teman atau rekan.
Kawan atau teman, perkenalannya cukup tahu identitasnya, say halo, diikat oleh lembaga tertentu misalnya sekolah.
Setelah waktu berlalu, masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, maka relasi menjadi terbatas bahkan bisa putus tanpa komunikasi.
Kalau rekan, biasanya terkait dengan hubungan kerja.
Ada sesuatu yang dikerjasamakan dalam rangka sebuah tujuan atau hasil.
Setelah tujuan tercapai, kembali relasi menjadi biasa-biasa saja.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Percaya dan diselamatkan, Maka Hidup Menjadi Berkualitas
Teman, kawan atau rekan, bisa saja berlanjut pada persahabatan.
Relasi menjadi intens, saling percaya dan mempercayakan terbangun, ada keakraban khusus yang hanya dipahami oleh yang terlibat dalam persahabatan.
Tujuan utamanya untuk saling menginspirasi dan menyemangati apabila ada yang jatuh dan terpuruk.
Ada relasi yang dekat dan akrab dalam persahabatan.
Terjadi kesetaraan posisi sebagai sesama manusia yang sederajat.
Saling menerima dan menghargai terbangun dengan baik, meskipun kadang bisa terjadi perbedaan pendapat didalamnya.
Menarik ketika kita membaca catatan Injil Yohanes yang mencatat perkataan Yesus Kristus, 'Aku menyebut kamu sahabat.'
Rasanya menjadi janggal jika kita memahami identitas diri Yesus sebagai firman Allah yang menjadi manusia (yang berarti Dia adalah Allah) dan menyatakan bahwa para murid, termasuk kita didalamnya, sebagai sahabat-Nya.
Pemahaman umum memahami bahwa relasi antara manusia dengan Allah itu sebagai Pencipta dan ciptaan.
Allah yang Agung, kudus, benar, dan Mahakuasa; sementara manusia itu berdosa, lemah, fana dan tidak berdaya.
Dalam banyak gagasan, rasanya menjadi hal yang terlalu sulit dipahami jika Allah mau berhubungan dan membangun relasi dengan manusia.
Bukankah berhubungan dengan manusia dapat merendahkan keberadaan-Nya sebagai Allah, atau menjadi manusia itu tindakan yang mempermalukan diri sendiri?
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Hidup Adalah Kristus, Mati Adalah Keuntungan
Pola pikir ini didasarkan pada pola pikir manusia yang dikuasai oleh ego dan berpusat pada diri sendiri.
Pola pikir ini lupa dengan keberadaan Allah yang Maha Kuasa sehingga memungkinkan Ia memilih menjadi manusia tanpa harus kehilangan identitas ke-Allah-an-Nya.
Fakta yang mendasar bahwa Allah berkenan berkarya menyelamatkan dengan menjadi manusia, karena Allah adalah kasih.
Kasih itulah yang menjadi dasar utama, mengapa Allah berkenan bertindak untuk menyelamatkan manusia dari dosa.
Paham lain menyatakan bahwa relasi Allah dengan manusia tetaplah relasi topdown: Allah berada diatas manusia.
Allah adalah tuan dan manusia hanyalah hamba. Ini relasi terkuat yang bisa dipahami oleh manusia.
Tuan itu penguasa dan hamba tunduk dibawah kuasa sang tuan.
Hamba sekedar menjalani kehidupan atas ijin sang tuan; tanpa ada kesetaraan atau kesejajaran dalam level.
Yesus hadir dan merombak dengan pernyataan, 'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba.'
Terjadi perubahan relasi, bahwa setiap orang percaya dinyatakan bukan lagi sebagai hamba, namun di eratkan hubungannya menjadi seorang sahabat.
Dalam hal apa relasi persahabatan ini terjadi?
Seorang hamba tidak tahu apa yang dikehendaki oleh tuannya.
Hamba pasif saja dalam melakukan kehendak tuannya. Ia tidak punya hak untuk protes atau sekedar berkeluh kesah.
Atau minta imbalan atas apa yang dikerjakannya.
Orang percaya disebut sebagai sahabat terkait dengan relasi yang lebih dekat dan akrab dengan Tuhan.
Sahabat dalam menata kehidupan, terlibat dalam prosesnya, dimungkinkan untuk mengetahui apa yang dikehendaki oleh Sahabatnya.
Sang Firman bukan lagi datang kepada para nabi secara khusus; Sang Firman Allah telah menjadi manusia, berbincang sebagai manusia, berbicara tentang apa yang dikehendaki Allah, memberitahu tentang karya-Nya dalam kehidupan sehingga manusia hidup dalam ketaatan.
Dalam konteks anak muda, sebagai Sahabat, Dia tahu setiap pergumulan, Dia mendengar rintihan dalam bentuk tetes air mata, Dia membuka telinga untuk mendengarkan curahan hati.
Dia adalah Sahabat Sejati. Dia setia dan dipastikan tidak akan pernah berkhianat.
Jika Yesus telah menetapkan kita sebagai sahabat-Nya, bukankah seharusnya kita dapat ketenangan dalam menjalani kehidupan?
Tidak perlu cemas atau kuatir tentang bagaimana kita harus menjalani kehidupan. Dia pasti memberikan jalan keluar pada setiap persoalan.
Sebagai Sahabat, Ia akan menghibur, menguatkan dan menopang dalam setiap jengkal perjalanan hidup kita.
Yakinlah..
Amin.
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20042019_teman.jpg)