Breaking News:

Bahayanya Jika Foto dan Selfie KTP Diperjualbelikan, Bisa Dipakai Pinjaman Bank atau Pinjol

Marak jual beli foto KTP dan foto selfie dengan KTP di media sosial. Akun Twitter @cryptovasi mengunggah tangkapan gambar Facebook dari akun penjual

Editor: Suci Rahayu PK
Tangkapan layar Facebook
Viral foto ktp diperjualbelikan 

TRIBUNJAMBI.COM - Marak jual beli foto KTP dan foto selfie dengan KTP di media sosial.

Akun Twitter @cryptovasi mengunggah tangkapan gambar Facebook dari akun penjual foto KTP dan foto selfie dengan KTP.

"Data dan fotomu bisa dijual oleh orang-orang tidak bertanggungjawab. WASPADALAH!," tulis dia.

Kebocoran dan jual beli data penduduk bukan kali pertama terjadi.

Unggahan di Twitter terkait jual beli data KTP
Unggahan di Twitter terkait jual beli data KTP (Capture @recehvasi)

Data pribadi bisa dihargai sangat mahal karena bisa menjadi akses hal-hal informasi vital, seperti bank dan pinjaman online.

Pasalnya, foto KTP dan foto selfie menggunakan KTP menjadi data yang menjadi verifikasi lembaga keuangan dan berbagai instansi.

Baca juga: Pria di Banjarmasin Gorok Teman Kencannya Hingga Bagian Tubuh Terpisah, Pelaku Bakar Tubuh Korban

Baca juga: Pengakuan Ayah yang Rudapaksa Anak Kandung Selama 4 Tahun: Kasihan Sebenarnya, Tapi Saya Bingung

Bahaya kebocoran data

Melihat maraknya kebocoran dan jual-beli data penduduk, pengamat teknologi dan digital foransik PT Digital Forensic Indonesia (DFI) Ruby Alamsyah, ST, MTI mengatakan, sistem verifikasi menggunakan selfie KTP hanya menguntungkan satu pihak saja.

"Efektif mungkin bagi industri keuangan itu sendiri, verifikasi data," kata Ruby, saat dihubungi Kompas.com, Jumat (25/6/2021).

Menurutnya, sistem verifikasi menggunakan selfie KTP ini tidak diimbangi dengan sistem dan regulasi keamanan digital yang memadai.

Sehingga, risiko yang dihadapi masyarakat jauh lebih besar.
"Manfaatnya hanya berguna bagi industri tersebut saja, ternyata dampak negatifnya jauh lebih banyak alias banyaknya terjadi kebocoran data," tutur Ruby.

Lebih lanjut, Ruby menjelaskan bahwa kebocoran data semacam ini paling berisiko pada kerugian finansial.

Orang yang menyalahgunakan data dan foto KTP bisa mengajukan pinjaman online dan merugikan orang yang datanya tersebar.

"Selain dijualbelikan, orang segampang itu bisa mengajukan pinjaman atas nama orang lain yang didapat dengan foto tersebut. Akhirnya manfaatnya lebih kecil daripada risikonya," jelas dia.

Sumber: Kompas.com

Baca juga: Pria Mengaku Nabi ke 28, Kemenag: 8 Pengurus Yayasan Telah Diamankan Pihak Berwenang

Baca juga: Lowongan Kerja Pelni untuk Lulusan S1, Terakhir Pendaftaran Hari Ini 26 Juni 2021

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved