Jumat, 17 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Health and Beauty

Bicara Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan, Mengapa Harus Pembalut Kain?

Hingga saat ini masih banyak perempuan yang belum mendapatkan kesejahteraan khususnya kesejahteraan dalam kesehatan reproduksi.

Penulis: Ade Setyawati | Editor: Fifi Suryani
TRIBUNJAMBI/ADE SETYAWATI
Bentuk Kepedulian Fakultas Sains dan Teknologi UIN STS Jambi Kepada Wanita Disabilitas Adakan Workshop Pembalut Kain. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Hingga saat ini masih banyak perempuan yang belum mendapatkan kesejahteraan khususnya kesejahteraan dalam kesehatan reproduksi.

Topik ini menjadi bahasan dalam Webinar Perempuan Bantu Perempuan bertajuk "Bicara Hak Kesehatan Reproduksi melalui Gerakan Pakai Pembalut Kain", Selasa (15/6) lalu secara virtual.

Webinar digelar Beranda Perempuan, UIN STS Jambi, Biyung Indonesia, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Gonau, dan Kompas.

Dalam webinar ini dijelaskan, kenapa perempuan belum mendapat kesejahteraan dalam kesehatan reproduksi? Apa yang dapat dilakukan dalam persoalan tersebut? Dan kenapa harus pembalut kain?

Banyak faktor penyebab dari hal tersebut, mulai dari kurang nya kesadaran, kemiskinan dan faktor lain, meliputi:

Minimnya (bahkan nihil) pengetahuan dan akses informasi tentang hak kesehatan reproduksi, kemiskinan, diskriminasi, alih fungsi lahan kerusakan dan pencemaran lingkungan, dan belum stabilnya sistem kebijakan.

"Selain hal tersebut, ada 3 poin yang juga menjadi penyebab dimana perempuan belum mendapatkan kesejahteraan dalam kesehatan reproduksi," jelas Zubaidah dari Beranda Perempuan.

"Yang pertama hak atas kesehatan reproduksi belum menjadi prioritas, kedua maraknya perkawinan usia anak: melahirkan generasi sandwich, generasi sandwich adalah generasi yang masih muda sudah menanggung beban keluarga dan ketiga tidak memiliki pengetahuan hak atas menstruasi yang sehat," lanjutnya.

Apa yang dapat dilakukan dalam persoalan tersebut? Ada 3 poin yang dapat dilakukan dan menjadi solusi masyarakat yang terdampak.

Pertama, edukasi: terutama untuk pemahaman tentang ketubuhan dan kesadaran tentang feminitas perempuan, dan penggunaan pembalut kain yang banyak manfaat.

Kedua, advokasi: terutama mendorong pelaksanaan undang-undang dan penegakkan hukum yang berlaku, untuk pemenuhan hak atas akses dan kontrol hidup sehat bagi perempuan.

Ketiga, kolaborasi: terutama memperkuat kerja jaringan untuk berdaya bersama.

Kenapa pembalut kain? Banyak manfaat yang didapat dari penggunaan pembalut kain, dapat lebih menghemat pengeluaran, lebih dapat dan juga mengurangi sampah karena pembalut kain dapat digunakan dalam waktu yang lama.

"Pembalut kain ini tidak hanya tentang bagaimana kamu bisa memakai pembalut kain, tetapi juga tentang kesehatan perempuan dan hak-hak kita sebagai perempuan yang memiliki rahim," tambah Westiyani Agustin dari Biyung Indonesia.

"Banyak manfaat yang didapat dari penggunaan pembalut kain, karena membantu menjaga kesehatan reproduksinya, dan tidak memakai bahan kimia dalam pembuatannya. " Yang kedua secara otomatis kita juga telah mengurangi dampak sampah, karena pembalut kain bisa dicuci dan dipakai 3 sampai 4 tahun. Dan ketiga dengan menggunakan pembalut kain para perempuan bisa melakukan penghematan, " tutupnya.(ade setyawati)

Pemenuhan Pembalut bagi Perempuan Disabilitas

PERMASALAHAN perempuan belum mendapatkan kesejahteraan dalam kesehatan reproduksi juga dirasakan oleh perempuan disabilitas.

Dalam kegiatan yang diadakan oleh Beranda Perempuan, UIN STS Jambi, Biyung Indoneisa, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Gonau dan Kompas hal ini juga dibahas.

Dalam kesempatan ini, Rarumas Dewi dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), menyampaikan pemenuhan pembalut bagi perempuan disabilitas juga menjadi tantangan.

Perempuan disabilitas juga memiliki hak yang sama seperti perempuan-perempuan lain, kesehatan reproduksi untuk perempuan disabilitas rentan sekali dengan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi atau organ intim.

Hal ini tidak terlepas dari anggapan yang berkembang di masyarakat, bahwa perempuan dengan disabilitas dianggap tidak memiliki aktivitas seksual dan reproduksi yang sama dengan perempuan nondisabilitas lainnya.

Sedangkan perempuan disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh edukasi, sarana dan fasilitas yang mendukung kesehatan reproduksi.

"Kesehatan reproduksi untuk perempuan disabilitas rentan sekali dengan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi atau organ intim, anggapan di masyarakat yang cenderung negatif terhadap perempuan dengan disabilitas, membuat terbatasnya informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi yang diberikan atau didapatkan oleh kaum disabilitas," jelasnya.

Hak kesehatan organ intim bagi perempuan itu ada 4 poin.

Pertama, memperoleh informasi tentang kesehatan organ intim. Kemudian, sarana dan fasilitas yang mendukung organ intim.
Ketiga, memperoleh informasi yang tepat cara merawat organ intim. Terakhir, mendapatkan pembalut yang sehat.

"Salah satu poin hak kesehatan organ intim bagi perempuan adanya pembalut yang sehat, dan bagi perempuan disabilitas ini juga merupakan tantangan," tambahnya.

"Ada 2 tantangan, pertama terbatasnya informasi bagaimana memilih pembalut yang sehat, kedua keterbatasan ekonomi perempuan disabilitas," tutupnya.

Solusi yang disarankan menurut Rarumas Dewi dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia ada 3 poin.

Pertama, memberikan sarana dukungan fasilitas di bidang informasi tentang kesehatan reproduksi dan kesehatan organ intim.

Kedua, memperkenalkan pembalut yang sehat untuk menjaga organ intim. Kemudian, memberikan pelatihan pembuatan pembalut yang alami, sehingga bisa menghemat pengeluaran dan menjadi sumber penghasilan.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved