Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Mempercayakan Diri Kepada Tuhan
Mempercayakan Diri Kepada Tuhan Bacaan ayat: Amsal 16:3 (TB) Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.
Mempercayakan Diri Kepada Tuhan
Bacaan ayat: Amsal 16:3 (TB) Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Seorang bocah dikondisikan oleh orang tuanya untuk selalu mendapatkan nilai terbaik pada setiap mata pelajaran.
Apapun dilakukan oleh orang tuanya untuk memotivasi anaknya untuk semangat dalam belajar. Penghargaan dan hukuman dijadikan sebagai metode terbaik.
Hasilnya? Sang anak selalu memperoleh nilai terbaik. Angka sepuluh, sebagai standar tertinggi, selalu menghias kertas ujian.
Suatu hari pada jam istirahat, ia kedapatan menangis. Semua teman dan guru heran, tidak biasanya itu terjadi.
Seorang guru mendekatinya dan bertanya mengapa dia sampai menagis.
Sebuah jawaban lirih, terbata-bata terucap, "Bu guru, saya mendapatkan nilai sembilan..!"
Di era modern saat ini, apa yang tidak bisa diraih atau tidak bisa dibuat oleh manusia?
Apa yang dahulu hanya imajinasi, saat ini sudah banyak yang menjadi kenyataan. Beberapa hal yang dupuluh tahun lalu hanya cerita fiktif dalam film, hari ini satu demi satu mewujud dalam bentuk yang nyata.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Yesus Kristus Adalah Terang Dunia
Kecanggihan teknologi telah memposisikan manusia diatas awan. Dalamnya laut dieksplorasi. Perut bumi dibedah untuk tahu isinya.
Materi terkecil yang tidak terlihat oleh mata, ditampilkan dalam wujud yang lebih besar untuk diteliti dan dikagumi.
Angkasa yang dulu misteri, saat ini telah menjadi pengetahuan umum bahwa ada planet, meteor, tata surya, galaksi, adalah materi yang membentuk alam semesta.
Sadar atau tidak, kondisi ini membentuk paradigma baru dalam kehidupan.
Bahwa apapun bisa dibuat oleh manusia jika diupayakan dengan kerja keras dan kesungguhan.
Keberhasilan demi keberhasilan membuat manusia tidak mau lagi toleran dengan kegagalan. Kegagalan dipandang sebagai aib dan kebodohan yang harus diperangi dan disingkirkan.
Menjadi sangat wajar jika seorang anak menjadi tidak siap untuk gagal. Menangis hanya karena kehilangan satu angka.
Mereka dipersiapkan untuk berhasil namun tidak dipersiapkan untuk menghadapi kegagalan.
Faktanya, sehebat apapun kemajuan ilmu dan teknologi, tetap ada bagian misteri yang tidak bisa dijangkau oleh manusia.
Rancangan sehebat apapun pada akhirnya menjadi usang oleh waktu. Pada posisi ini manusia perlu memiliki kesadaran akan keberadaan dirinya dihadapan Tuhan.
Baca juga: Renungan Harian Kristen - Jangan Jatuh Lagi Ya!
Sejak semua Alkitab sudah menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Pernyataan ini cukup untuk membangun kesadaran diri bahwa posisi manusia itu adalah ciptaan.
Manusia diciptakan dengan potensi untuk membuat banyak hal bagi kehidupan. Diposisikan oleh Allah untuk mengelola dan menguasai bumi; bukan untuk mengungguli Penciptanya.
Ini membawa kita pada pemahaman bahwa ada bagian yang boleh kita lakukan dan ada bagian yang akan dilakukan oleh Allah sebagai penguasa mutlak atas kehidupan.
Amsal mempunyai kata mutiara yang cerdas ketika menyatakan: "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu."
Dalam terjemahan yang lebih sederhana, dinyatakan: "Percayakanlah kepada TUHAN semua rencanamu, maka kau akan berhasil melaksanakannya."
Amsal membawa kita untuk memahami bahwa:
Satu, ada bagian yang harus kita lakukan yaitu merencanakan yang terbaik bagi kehidupan.
Manusia diciptakan dengan potensi untuk melakukan mandat Allah yaitu memelihara bumi.
Maka manusia mempunyai potensi untuk merencanakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Fokus utamanya tetap pada rancangan Allah atas kehidupan.
Rencana manusia harus selalu diposisikan dibawah otoritas rancangan Allah atas kehidupan. Ini penting, agar manusia tidak melampaui apa yang yang menjadi bagiannya.
Kedua, manusia berada pada posisi menundukkan diri dengan kesadaran penuh bahwa dirinya hanyalah ciptaan dan Allah adalah Pencipta.
Maka sehebat apapun rencana yang dibuat, semata-mata terlaksananya karena ijin dan persetujuan dari Allah.
Sikap percaya perlu berdampingan dengan pilihan untuk mempercayakan segala rancangan kepada Allah.
Hasilnya? Jika berhasil maka Allah yang dimuliakan; jika gagal dalam ukuran standar yang dibuat, tetap yakin bahwa ada karya Allah yang lain, yang akan dinyatakan kemudian.
Bahwa ada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan dalam segala keadaan, menjadi pedoman utama, agar tidak terpuruk dalam keputusasaan.
Mendidik anak untuk berhasil itu harus, namun persiapkan mereka merespon saat gagal. Merencanakan yang terbaik dalam segala hal itu baik, namun jangan andalkan kekuatan diri sendiri untuk mewujudkan.
Ini penting untuk mengindarkan diri kita dari memegahkan diri dan sombong ketika berhasil; atau patah harapan ketika mengalami kegagalan.
Sekali waktu tidak apa-apa gagal, karena kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Tidak masalah nilai sembilan, atau tujuan, asal diperoleh dengan kejujuran dan kebenaran.
Diatas semua itu, _Sakehing panggawemu pasrahna marang Pangeran Yehuwah, temah sakehe rancanganmu bakal kelakon._
Tahu artinya? Saya paham maknanya karena saya Orang Jawa. (Yang tidak paham, bisa pakai google translate).
Ini bukti sederhana bahwa setiap orang itu terbatas dalam hal-hal tertentu. Maka serahkan segalanya pada Tuhan. Amin.
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08012021-renungan.jpg)