Breaking News:

Realisasi Intensifikasi Sawit di Jambi, Kenaikan Produksi Berbanding Lurus Penambahan Lahan

Harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Jambi sedang di angka tertingginya. Senyum petani merekah, jerih payah dan modal

Tribunjambi/Samsul Bahri
Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Muarojambi yang dipanen dari pohon berusia tua. Sedikitnya 55 ribu hektare lahan di Muarojambi wajib di-replanting. Namun tingginya harga sawit membuat petani menolak dilakukan replanting saat ini. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Jambi sedang di angka tertingginya. Senyum petani merekah, jerih payah dan modal yang dikeluarkan terbayar lewat lembar rupiah yang diterima, maupun lewat deretan angka yang masuk ke rekening.

Saatnya mereka berbelanja, saatnya juga pasar bergairah. Dengan luas kebun 1,13 juta hektare dan jumlah petani perkebunan mencapai 669.000 KK, sawit cukup memengaruhi perekonomian di Provinsi Jambi.

Pedagang perabotan, emas, rumah, kendaraan roda dua dan empat pun menemukan pembelinya. Setelah berbulan-bulan ikut lesu karena orang berduit lebih memilih saving merespon pandemi Covid-19 yang serba tak jelas.

Hampir 1,5 tahun pandemi ini menjadi momok menakutkan. Tak hanya kesehatan masyarakat yang dihantui terus-menerus, berbagai lini usahapun terimbas dalam. Covid-19 pun didaulat menjadi alat seleksi alam, mana yang tangguh dan sanggup beradaptasi akan tetap survive, sementara yang lainnya akan tersingkir.

Begitupun dengan sawit, karena manusia harus mempertahankan kehidupannya, maka industri hulu akan menemukan hilirnya. Meski diwarnai gonjang-ganjing penolakan masyarakat Eropa, kebijakan menaikkan pajak masuk hingga lock down sejumlah negara, namun sawit tetap menemukan hilirnya. Meski itu bukan jaminan akan berlangsung permanen.

Adalah Alex, pemilik lahan sekaligus petani sawit di perbatasan Kabupaten Muarojambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Ia menyebut, harga Rp2.600 per kilogram pada pertengahan Mei 2021 lalu adalah harga tertinggi. Puluhan tahun bergumul dengan sumber minyak nabati itu, Alex juga pernah merasakan getirnya ketika harga TBS-nya hanya dihargai Rp250 per kilogram.

Menurutnya, saat TBS di harga Rp1.000 per kilogram, di situ ia baru memperoleh keuntungan, meski tipis. Tentu itu bukan angka yang baku, harga dan ketersediaan pupuk, cuaca, kondisi jalan turut memengaruhi modal untuk mengetahui laba yang didapat.

Bisa Anda bayangkan keuntungannya jika per kilogram TBS dihargai Rp2.600-an?

Jangan aneh jika Alex maupun petani mandiri lainnya ingin terus berinvestasi dengan menambah luasan kebun sawit. Bagaimana caranya?

"Biasanya saya beli yang semak belukar, atau tanah yang tidak dikelola. Tanahnya lebih bagus, karena mengandung humus yang tinggi," jawabnya.

Halaman
1234
Penulis: Fifi Suryani
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved