Breaking News:

Tanjabbar Zona Merah, Dewan Sebut Ini Penyebab Covid-19 Sulit Dikendalikan

Kasus Covid-19 di Tanjung Jabung Barat semakin meningkat dan saat ini masuk dalam zona merah.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Teguh Suprayitno
tribunjambi/herupitra
Vaksinasi Covid-19 

Tanjabbar Zona Merah, Dewan Sebut Ini Penyebab Covid-19 Sulit Dikendalikan

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Kasus Covid-19 di Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) semakin meningkat dan saat ini masuk dalam zona merah.

Anggota DPRD Tanjabbar Sufrayogi Syaiful mengaku perlu ada perubahan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tanjabbar.

"Jadi dengan kondisi saat ini memang pemerintah harus responsif, maka kedepannya pemerintah harus cermat dan tepat dalam membuat kebijakan dengan memperhatikan skala prioritas," katanya.

Ia juga melihat bahwa personel satuan tugas penanganan pandemi Covid-19 dalam melakukan edukasi dan pengawasan di luar ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Barat masih kurang.

Baca juga: Bukan Hanya Denda, Ini Hukuman Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan, 357 Warga Tebo Kena Sanksi

Baca juga: Wartawan TVOne Dikeroyok Orang Tak Dikenal Saat Meliput Aktivitas Diduga Ilegal di SPBU Bungo

Baca juga: Cek Endra Nyaris Kalahkan Haris di Sungai Gelam, Suara Hasil PSU Hanya Selisih Segini

 

 

Yogi minta pemerintah kabupaten mendirikan posko terpadu pencegahan pandemi Covid-19 pada area tertentu.

"Ini melibatkan lintas instansi/sektoral yang bertujuan sebagai titik koordinasi secara intensif antara satuan tugas kabupaten dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, terutama yang lokasinya jauh dari ibukota kabupaten,"tambahnya.

Tidak hanya itu, Yogi menilai bahwa masih ditemui kekurangan fasilitas dan sarana penunjang dalam rangka mendukung penanganan pandemi Covid-19 antara lain.

Hal ini juga di dukung dengan komunikasi antara pemangku kebijakan dan sektoral yang memang di fokuskan dalam satgas Covid-19 Tanjabbar.

"Kita melihat masih ditemui lemahnya komunikasi dan kerjasama dalam rangka penanganan pandemi Covid-19, antara lain koordinasi, integrasi dan sinkronisasi. Sementara yang kita lihat selama ini ya itu-itu saja orangnya,"tambahnya.

Yang tidak kalah pentingnya dikatakan Yogi adalah terkait dengan sosialisasi perda nomor 4 tahun 2020 tentang penegakan protokol kesehatan Covid-19 agar dilakukan secara terus menerus, baik dalam bentuk rapat, sosialisasi maupun penyebarluasan informasi.

Pemeriksaan rapid test antigen terhadap para santri di satu pondok pesantren.
Pemeriksaan rapid test antigen terhadap para santri di satu pondok pesantren. (tribunjambi/musawira)

Menurutnya sosialisasi tersebut hingga saat ini belum maksimal, sehingga sanksi yang ada dalam perda tersebut tidak maksimal diketahui.

"Sehingga diharapkan sosialisasi yang maksimal ini tercapainya kesadaran masyarakat atas pentingnya mematuhi protokol kesehatan,"pungkasnya

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved