Renungan Kristen
Renungan Harian Kristen - Hidup Kudus Itu Pilihan
Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegaw
Hidup Kudus Itu Pilihan
Bacaan ayat: Daniel 1:8-9 (TB) - "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.
Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;".
Oleh Pdt Feri Nugroho
Berada di tempat baru, selalu membawa persoalan tersendiri bagi seseorang yang mengalaminya.
Pada satu sisi, seseorang harus berhadapan dengan segala hal yang baru.
Dia harus mengenal lingkungannya, memahami seluk beluk yang ada, kebiasan orang sekitarnya, budaya yang berlaku, dan lain-lain.
Ia kemudian memberikan penilaian terhadap segala hal yang ditemukannya dan berada pada posisi memilih, harus bersikap seperti apa untuk merespon penemuan tersebut.
Pada sisi lain, seseorang sudah hidup dalam kebiasaan tertentu, pola yang berbeda, sistem nilai yang membentuk perilaku, bahkan karakternya.
Ketika yang bersangkutan mempunyai kemampuan adaptasi yang baik, maka semua tidak menjadi masalah.
Persoalannya, apa yang dihadapi tidak selalu sejalan dengan apa yang ada didalam diri, bahkan pada waktu tertentu menemukan perbedaan dan pertentangan yang signifikan.
Iman Kristen berada pada situasi yang sama. Tuhan Yesus dalam catatan Injil Yohanes menyatakan bahwa para murid 'bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.'
Pernyataan Yesus ini membawa kita pada pemahaman bahwa setiap orang percaya sudah beralih 'kependudukan', yaitu, meskipun ada dalam dunia namun bukan lagi hidup dengan cara duniawi.
Para orang percaya adalah orang-orang yang sudah dibenarkan, dikuduskan, ditebus dari kehidupan dosa dan beralih dalam kehidupan yang penuh dengan pembaharuan.
Inilah dilema yang seringkali dihadapi oleh orang percaya.
Mereka telah diperbaharui dalam Yesus, namun masih hidup di dunia yang mempunyai standar hidup dan nilai yang berbeda.
Orang percaya hidup didunia dengan standar nilai kemanusiaan, kebaikan, atau keadilan dan kasih yang selalu bersyarat.
Segala hal akan dipilih berdasarkan pertimbangan ekonomi yaitu untung atau ruginya.
Itulah sebabnya Rasul Paulus menyebut bahwa 'pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.'
Itulah sebabnya, agar orang percaya dapat hidup benar perlu mengalami pembaharuan akal budi agar mampu memberikan pencerahan kepada dunia yang penuh dengan kejahatan dan ketidakadilan.
Pembuangan ke Babel membuat Daniel dan kawan-kawan harus berhadapan dengan situasi yang baru.
Ia harus berhadapan dengan ancaman kehilangan identitas diri dan kehilangan iman dengan menerima segala hal yang mewah di negeri asing.
Ancaman itu nyata ketika nama Daniel diubah menjadi Beltsazar.
Meskipun demikian perubahan tersebut tidak membuatnya kehilangan makna dari nama yang disandangnya.
Ia tetap menempatkan Allah sebagai Hakim atas kehidupannya.
Diperlukan komitmen dan integritas yang kuat untuk tidak kehilangan identitas diri di tengah negeri asing yang mengancam. Komitmen tersebut bukan tanpa resiko.
Tindakannya untuk tidak menajiskan diri dengan makanan dan minuman raja, menjadi bukti bahwa ia mempertahankan hidup kudus ditengah lingkungan asing yang tidak mengenal kekudusan.
Komitmen nya kokoh sehingga cerdas dalam berargumentasi memperjuangkan kekudusan hidupnya.
Dan ajaibnya, Allah hadir dan berkarya dengan melindungi Daniel dengan mendapat persetujuan dari pemimpin pegawai istana.
Pilihan Daniel untuk tetap menjaga kekudusan hidup menginspirasi kita untuk terus mempertahankan kekudusan yang telah Allah anugerahkan dalam Yesus Kristus.
Daniel berani menjaga kekudusan, padahal itu hanya persoalan makanan semata.
Bagaimana dengan kita, yang sudah dikuduskan oleh darah Tuhan Yesus Kristus?
Bukankah sudah seharusnya perjuangan untuk terus hidup kudus itu harus semakin kuat?
Tidak dipungkiri, kita lemah. Kelemahan manusiawi menjadi incaran Iblis untuk dia masuk dan merongrong dari dalam.
Strateginya dengan terus menjadikan kelemahan sebagai alat untuk mendakwa selalu mendapat ruang dalam pikiran.
Tidak percaya diri, takut salah, merasa berdosa, takut disebut sombong, dan lain-lain; menjadi lahan subur bagi Iblis untuk melemahkan iman secara perlahan namun pasti.
Sampai suatu saat, kita mendapati diri sudah semakin jauh dari kekudusan Tuhan.
Puncaknya, rasa tidak layak menjadi semacam bom atom yang menghancurkan kita berkeping-keping untuk semakin jauh dari Tuhan.
Komitmen Daniel memberi inspirasi kepada kita untuk terus berjuang dalam komitmen dann kesungguhan.
Tuhan tahu kelemahan kita, maka Dia pasti akan menolong dan memampukan kita. Percayalah. Amin
Renungan oleh Pdt Feri Nugroho S.Th, GKSBS Palembang Siloam
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/08012021-renungan.jpg)